Tuesday, 9 May 2017
Thursday, 26 January 2017
Nothing is Irreplaceable
“No
one is irreplaceable.”
I started my day by reading these four words in one line. My friend’s quote
has tickled me a little bit. And
drive me thinking in this whole day.
Once
in awhile, we
felt that something/someone is really fit
and suitable for us.
Whether it was our goal,
dream, vission, mission, team, favorite thing, friend,
partner, rival, leader, work mate, class mate, buddy, lover, or somebody/something else
whatever you mention it. Feeling very comfortable when sharing some ideas with
her/him, and just felt like “Oh My God, I never feel this pleasant feeling
before. She/
He is
really my other-half!”
But
then, something has changed. Predictable or unpredictable, shortly, our ‘suitable
thing’ becomes not suitable anymore. Our favorite part is not being special
anymore. That ambititious goal turns and changes its direction. That finest
partner slowly but sure has faded. Uncontrollably switch over with or without
any logic reason.
Immediately,
we see the gap from our closest person. Or we are the person who create the
gap? In the end, our place can be exchanged with another person or thing. Vice versa,
we can throw someone/something away from our life with no hesitation for some
aims. Because we do know, have a new one
after a long lost is a possibility.
Replace
or being replaced. Change or being changed. Forget or being forgotten. Chase or
being chased. Hate or being hated. Love or being loved. Treat or being treated.
And how about when we are not
ready to face it?
We
just have to be ready any time. We just have to accept the alteration. We just
have to let it be.
Just
feel it, face it, and learn from it. Remember, everyone has their own time-laps.
Being gentle with ourselves is a must and not negotiable. Then I understand : Somewhile
we must learn to be a little bit selfish to survive.
Jakarta, 26 January 2017
Wednesday, 25 January 2017
3 of 3 : Jelajah Hutan Mati dan Taman Edelweiss Papandayan
Setelah puas berkeluh kesah terkait terdengarnya suara
babi hutan di pukul 04.00 pagi itu, kami kemudian bersiap mengawali hari. Air
gunung di pagi buta menjadi lebih dingin dari di siang hari, sedingin air
ditaruh botol kaca di kulkas. Dingin banget deh.
Hujan gerimis semalam masih menyisakan hawa menusuk
sampai ke tulang. Kami berkemas untuk menyiapkan perbekalan dalam 1 tas yang
akan dibawa bergantian (oleh teman-teman pria). Air mineral beberapa botol dan
snack sebagai penunda rasa lapar nanti di atas. Atas saran seorang teman yang
sudah beberapa kali naik gunung, membawa Soyjoy menjadi langkah tepat untuk penolong
perut yang meronta minta diisi. Ampuh!
Tujuan pertama adalah area hutan mati sambil menyambut
matahari pagi. Jarak antara area tenda dengan hutan mati cukup mudah dan bisa
ditempuh dalam waktu 30-45 saja tergantung dari kecepatan berjalan. Memang sedikit boros napas, tapi bisa lah,
pelan pelan saja. Tidak ada panjat memanjat untuk menuju hutan mati dari area
Saladah Camp. Tapi kalau ditempuh langsung dari Basecamp David, sepertinya.....
lumayan. Tenang saja, dari Basecamp David menuju hutan mati pun sudah ada anak-anak
tangga kok.
Area hutan mati di pagi hari dengan background langit semburat biru putih menciptakan
suasana yang begitu syahdu dan menggoda kita untuk berlama-lama tetap ada di
sana. Terdapat sebuah favorite spot dengan latar
Gunung Cikuray yang sangat leh uga untuk
foto-foto. Tapi hati-hati ya foto di situ, area rawan longsor karena
berbatu-batu. So jangan terlalu ke pinggir karena kerikil-kerikil di sana membuat kita bisa terpeleset. Rekomendasi saya, bersamalah dengan partner yang memang sama-sama doyan
foto-foto, jadi semuanya happy dan
tidak merasa bosan karena memang di area itu hanya terbentang batang pohon yang
mati, bebatuan, dan pepohonan hijau di kejauhan. Hahahahah.
Syahdu.
(FYI, foto di bawah ini diambil dalam perjalanan pulang, sekitar pukul 13.00 siang. Dan hasilnya lebih cerah daripada foto saya di atas yang diambil pagi-pagi. Tapi ya gitu deh, siapkan sunblock demi potret yang sempurna. Panas banget!!)
Perjalanan selanjutnya adalah menuju Tegal Alun, padang edelweiss yang termahsyur itu! Atas instruksi dari salah satu teman kami, kami memilih jalur memotong, ditengarai lebih cepat sampai tapi perlu perjuangan yang juga lebih lagi. Tegal Alun yang ada di balik pepohonan hutan itu kami tempuh dari Hutan Mati, dengan tanpa ada rambu-rambu atau petunjuk arah. Semua murni bergantung pada ingatan salah satu teman kami yang pernah menuju ke sana. Satu kali. Iya, tapi kami percaya aja.
Perjalanan dari Hutan Mati ke Tegal Alun sekitar 1-1.5jam sepertinya. Agak-agak lupa. Dan medan yang dilalui benar-benar terjal. Meskipun beberapa kali kami bertemu Mba Mba yang memakai rok, namun sepertinya saya lebih rekomendasikan celana sebagai outfit-nya. 80% perjalanan ditempuh dengan panjat memanjat. Tapi entah mengapa, rasanya lebih melelahkan perjalanan dari Camp Saladah ke Hutan Mati daripada dari Hutan Mati ke Tegal Alun. Atau hanya perasaan saya saja ya...
Oh iya, yang perlu dicatat adalah, acara panjat memanjat itu didukung oleh akar-akar pohon yang kuat dan udara yang lembap. Apalagi jika malam sebelumnya hujan, tanah menjadi agak licin. Maka gunakan sepatu tertutup yang proper, dan relakan jika nanti menjadi sedikit buruk rupa oleh sebab lumpur. Lupakan jaket unyu atau sweater tebal karena acara panjat memanjat itu cepat membuat kita gerah.
Dan tibalah kita di saat yang berbahagia. Rumpun tumbuh-tumbuhan edelweiss mulai ternampak, Saudara Saudari! Sebenarnya dan sesungguhnya, jika suatu hari nanti saya berkesempatan kesana lagi, di tempat inilah saya ingin berlama-lama menghabiskan waktu. Entah karena masih cukup pagi atau karena waktu itu hari Senin, tempat itu cukup sepi, tak banyak orang-orang yang ada di sana. Maka ladang edelweiss yang luaaaas itu menjadi salah satu ciptaan sempurna oleh Tuhan yang pernah saya cicipi keindahannya. Rasanya pengen bawa tikar dan gelundungan di situ, piknik. Main monopoli. Foto-foto. Tidur siang.
Setelah dirasa dipaksa telah cukup menikmati Tegal Alun, kami pun bergegas turun. Targetnya, jam 10 sudah sampai di Camp Saladah, kemudian masak-makan-mandi. Yang kemudian saya ketahui belakangan adalah, kita harus mengestimasti waktu yang tepat untuk kembali turun ke Garut. Mengapa? Karena bus Primajasa terakhir dari Terminal Guntur ke Jakarta Cililitan sekitar jam 5-jam 6 sore. Jadi mohon untuk tertib dan tidak banyak terlena berleha-leha karena perjalanan masih panjang, Jendral!
Seperti biasa, perjalanan pulang terasa lebih cepat dari perjalanan berangkat. Kami memilih untuk turun dari area Hutan Mati. Di pinggir tempat kami berfoto area "Rawan Longsor" tersebut ada anak tangga yang cukup...... curam. Harap berhati-hati karena di situlah ujian. Bebatuan dan kerikil harus mampu kita kuasai supaya tidak terpeleset. Tapi tetap saja, beberapa kali di antara kami ada yang terpeleset manja akibat kelalaian dalam memilih batu pijakan yang kuat. Maka, pilihlah pondasi yang kuat supaya perjalanan yang dilewati pun menjadi semakin mantap. Asaelah....
Perjalanan di bawah adalah perjalanan pulang yang diabadikan dalam gambar.
See you later, Papandayan!
Jalan Setapak
Seorang penduduk setempat melintas dengan kuda besinya.
Sungai Belerang. Hangat.
Toilet
Ditulis di Jakarta, 25 Januari 2017
Monday, 2 January 2017
2 of 3 : Ternyata Ada Babi Hutan Sungguhan di Papandayan!
Sudah sejak perjalanan dari Jakarta menuju Garut, teman saya sebut saja Tobing dan Harahap melulu bercanda soal babi hutan. Entah dari menirukan suara babi, membahas gerak-gerik babi, atau apapun yang berkaitan dengan babi hutan, mereka senang bukan kepalang membahasnya. Dan iseng saya bertanya:
“Babi apa Lan?”
“Babi apa Lan?”
“Babi
hutan! Babi yang tingginya se anak sapi dan badannya hitam berbulu dan
bertaring itu lho”
“Ih
serem banget dong, masa sih.”
Teman
saya Tobing ini kalau bercanda suka kelewatan, jadi waktu itu saya berpikir
bahwa ceritanya adalah isapan jempol belaka. Maka saya betul-betul tak ambil
pusing dan berpikir bahwa babi hanya akan kita temui nanti di hutan saja. Dan percakapan
itu saya lupakan sampai akhirnya sore itu kami habiskan bermain kartu di tenda
dan hujan kembali turun dengan derasnya. Mengintip dari balik celah tenda, ternyata
di luar sudah petang dan angin berhembus sangat kencang. Salah satu pancang flysheet (semacam terpal untuk atas
tenda) sampai terlepas dan berkibas-kibas dengan brutal. Lagi-lagi teman-teman
kami harus berbenah sana-sini demi menciptakan malam yang nyaman.
Pun
saya baru menyadari bahwa tenda kami tak bertetangga dan berada di area paling
pinggir, paling dekat dengan hutan. Saat itu di sekitar tenda sudah gelap,
hujan pun sudah bukan hanya gerimis, ditambah pula angin yang menderu-deru. Lengkap
sudah suasana betul-betul mencekam. Kami sepakat untuk segera berpisah dan
pergi tidur ke tenda masing-masing saja. Sampai akhirnya Bapak penjaga warung
mengingatkan kami:
“Dek,
itu plastik sampah makanannya taruh di atas pohon saja, supaya tidak ada (ditemukan)
babi”.
Alamak!
Detik
itu juga saya mematung dan merasa sangat ingin pulang. Yang benar saja! Kalau warga
sekitar yang mengingatkan, berarti babi itu ada sungguhan dong? Bergegas saya menjadi yang paling cekatan mengumpulkan sampah
makanan dan menggantungnya di ranting-ranting pohon. Sebelum pergi ke tenda
wanita, saya sempatkan memastikan ke rekan saya;
“Lan,
jadi.... babi hutan itu ada sungguhan?”
“Iya
beneran ada! Dulu waktu aku dan teman-temanku bikin tenda di sini dan kami
nggak taruh plastik di ranting, tenda kami dimasuki babi”.
Dan
seketika lutut saya menjadi lemas....
Malam
itu masih pukul 19.00.
Dan
saya merasa malam mengapa sangatlah panjang. Dari seluruh lelahnya perjalanan,
saya mengakui bahwa tantangan terbesar dari piknik di gunung adalah tidur di
malam hari. Betapa tidak, tidak satupun dari kami anak-anak wanita membawa
matras. Beberapa lembar kardus dan sleeping
bag sungguh tidak membantu. Baju hangat yang berlapis, kaos kaki, sarung
tangan, buff, sudah saya kerahkan
tapi sama saja. Badan saya lemah terhadap dingin. Ya elah.
Catatan
untuk perjalanan selanjutnya (jika ada dan terjadi): matras itu perlu!!!!
Selain
dibayang-bayangi rasa dingin dan angin yang terus berhembus, hati kecil saya
tidak tenang karena... takut babi!!! Maka malam yang panjang itu membuat saya
terbangun setiap beberapa jam sekali. Dan setiap bangun, saya selalu menajamkan
pendengaran untuk mengidentifikasi suara-suara aneh yang tidak diinginkan. Tapi
syukurlah, sampai pukul 02.00 dini hari keadaan terpantau aman, sudah tidak
hujan, dan badan sudah sedikit beradaptasi.
Sampai
akhirnya saya dan Amel sama-sama terbangun oleh suara lolongan anjing
bersahut-sahutan. Sontak saya cek jam tangan yang selalu menempel : masih pukul
04.00. Di tengah remang-remangnya lampu headlamp
yang kami letakkan di ujung tenda, kami berpandang-pandangan dan
berpelukan.
“Fi.....”,
gumam Amel merapat.
Tak
lama setelah itu, terdengarlah suara yang saya takutkan semalaman tadi.
NGGROK.
NGGROK. NGGROK.
Mak!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Seketika
saya komat kamit membaca doa apapun yang saya bisa. Amel dan saya sudah seperti
Teletubbies yang sedang reuni. Saling mengatur nafas, kami berusaha untuk
membatu dan tak bergerak barang satu centimeter pun. Sekelebat bayangan
terlihat melintasi tenda kami, diiringi pelukan kami yang lebih erat satu sama
lain. Demi apapun, harapan saya saat itu hanya ada dua: jangan sampai babi
hutan ini ada yang mengamuk dan semoga lekas pagi.
Setengah
jam yang terasa seperti sewindu itu akhirnya berakhir dengan lambat laun ada
suara orang hilir mudik dan sorot lampu dari tenda teman-teman pria. Seketika saya
buka retsleting pintu tenda dan
bersyukur tak henti-hentinya.
“Laaaaaaaaaaaaaaaaan,
tadi ada babiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!”
“Emang.
Kan udah dibilang”.
1 of 3 : Dadakan ke Papandayan
Perjalanan mendadak ke
Papandayan telah menutup minggu terakhir di tahun 2016 dengan sempurna.
Bersyukur karena persiapan kurang dari satu minggu itu tidak menjadi penghambat
yang berarti. Isu dilempar ke publik hari Selasa, Jumat pagi konfirmasi siap berangkat,
dan hanya punya waktu 1 hari untuk benar-benar menyiapkan semua untuk
keberangkatan Sabtu malam.
Trip dadakan ini membuat
sedikit kewalahan karena kami yang bukan anak gunung kocar-kacir mencari pinjaman atribut. Hal-hal
penting seperti jaket tebal, sleeping
bag, tas ransel (iya, di
Jakarta saya tidak punya tas ransel yang bersahaja untuk naik gunung), bisa
saya pinjam dari teman yang doyan naik gunung. Tapi pernak pernik lain seperti
tenda, headlamp, kompor kecil, dan nesting, harus kita sewa. Lumayan murah kok
sewa peralatan seperti itu, thanks
to Maulana who sacrificed himself to be the person in charge of serba serbi!
Kami memutuskan untuk naik
bus saja supaya adil, tidak ada yang lebih capek di jalan karena harus
berkorban menyetir selama beberapa jam. Bus Prima Jasa pool Cililitan menjadi pilihan kami
karena terhitung paling dekat dengan kos kami semua.
Sabtu, 24 Desember 2016
Pukul 19.30 semua personil
berjumlah 8 orang sudah menampakkan batang hidungnya di terminal. Namun karena
menyadari bahwa sampai Garut nanti pasti sudah dini hari, maka yang merasa
sedikit lapar memutuskan untuk mengisi amunisi dulu entah dengan tumpeng atau
kambing guling (sumpah, teman-teman saya makannya lama banget!).
Pukul 20.30 bus yang mau
kita naiki sudah siap.
“Lan, kita kok nggak beli
tiket dulu? Bus nya udah siap tuh, nanti kalau kehabisan gimana?”
“Mana ada beli tiket, naik
bus mah yang penting kita masuk, terus duduk, terus bayar di dalem!”
Oh, iya ya. Sudah lama
sekali saya tidak naik bus antar kota antar propinsi. Saya lupa kalau naik bus
ini tidak perlu membeli tiket seperti kalau kita mau naik kereta. Hehehe.
Bus yang kita naiki cukup
nyaman. Bersih dan ber-AC, AC dingin malah! Jadi bagi orang yang kurang tahan
dingin seperti saya ini harus bersiap jaket tebal atau pashmina atau kalau
perlu bangun tenda supaya bisa tetap tidur dengan damai. Bus akan berhenti di
beberapa titik penjemputan, tapi tidak apa-apa karena di setiap perhentian
itulah kita bisa jajan-jajan entah tahu goreng atau kopi panas. Mana yang kamu
inginkan saja.
Waktu tempuh terminal
Cililitan – Terminal Gantur: kurang lebih 4 jam.
Biaya : Rp 52.000 per
orang.
Minggu, 25 Desember 2016
Sekitar pukul 02.00 kita
sampai di Terminal Guntur. Suasana khas terminal dengan bau bensin dan hiruk
pikuk yang didominasi Mas-Mas dan Bapak-Bapak menyambut kami. Untuk menuju
Papandayan ternyata harus dua kali naik angkot lagi. Nah, keuntungan dari naik
gunung berombongan adalah biaya transportasi bisa dibagi lebih banyak orang.
Angkot ini sistemnya borongan, waktu itu sekali jalan dipatok Rp 200.000. Kalau
anggota kalian lebih banyak namun masih bisa ditampung dalam 1 angkot, tentu
biaya akan menjadi lebih terjangkau.
Waktu tempuh dari Terminal
Guntur-pemberhentian selanjutnya : kurang lebih 30-45 menit.
Biaya : Rp 25.000 per
orang.
Pukul 02.30 an kita sampai persimpangan Cisurupan.
Yang jelas di sana memang
sudah ada pembagiannya, bahwa angkutan umum hanya boleh mengangkut penumpang
dari titik terminal ke titik pertigaan ini, tidak boleh langsung ke Basecamp David,
perhentian terakhir kendaraan. Jika anggota lebih dari 8 orang, maka akan
diangkut dengan mobil pick-up, tapi karena kemarin kami hanya 8 orang, entah
bagaimana ceritanya akhirnya kami diangkut dengan mobil Avanza. Oiya, di situ
Indomaret tidak buka 24 jam, yang masih tersedia hanya tukang nasi goreng dan
ATM BNI. Silakan mempersiapkan perbekalan sejak di bawah tadi ya.
Waktu tempuh persimpangan Cisurupan-Basecamp David : kurang lebih 30-45 menit.
Biaya : Rp 25.000 per
orang.
Di tengah perjalanan
menuju Basecamp David, akan ada pos pemberhentian. Salah satu anggota harus turun
dan melapor di pos mengenai nama dan nomor telepon anggota yang memasuki area
Papandayan. Juga akan didata siapa saja yang akan menginap di sana dan siapa
saja yang tik-tok, atau langsung turun dan tidak
menginap. Hmmm ternyata biaya naik gunung tidak seekonomis yang kami bayangkan
ya.
Biaya menginap : Rp 65.000
per orang.
Biaya tik-tok : Rp 35.000 orang.
Pukul 03.30 sudah tiba di Basecamp David.
Tempat ini adalah lokasi
perhentian terakhir kendaraan menuju Papandayan. Yang membawa mobil sendiri
bisa diparkir di sini, dan tenang saja tempat parkirnya luas kok. Sambil
menunggu subuh, sudah ada beberapa warung yang buka. Mau makan di situ atau
dibungkus dan dimakan di atas gunung, terserah aja. Saya sih di situ hanya
makan teh manis hangat dan gorengan. Nasi gorengnya bungkus saja dan dimakan di
atas nanti mana tau lapar di jalan. Harga nasi goreng plus telur dadar berkisar
15-20ribuan kalau tidak salah.
04.30
Selepas menunaikan shalat
subuh, kami berdoa sebelum mengawali perjalanan. Baru beberapa ratus meter
melangkah dan merasakan tanjakan naik, saya yang tidak pernah olahraga ini
langsung miskin tenaga. Begitulah, meskipun pendakian ke Papandayan ini mungkin
dianggap tak seberapa oleh para pendaki cantik dan ganteng yang
telahmenaklukkan Mahameru, tapi bagi saya pribadi pendakian ini adalah
pencapaian. Tak terhitung berapa kali kami para wanita silih berganti minta
berhenti untuk beristirahat (dan saya gunakan kesempatan emas itu untuk
mengeluarkan kamera) dan foto-foto. Percayalah, foto yang indah adalah amunisi
terbaik di tengah perjalanan!
Dari Camp David, ternyata
antara pos satu dan pos lainnya tidak terlalu jauh. Tapi bagi pengunjung pemula
yang membawa tas berisi botol aqua 1.5 liter dan serba-serbi lainnya saja sudah
sempoyongan seperti saya, tetap saja jauh! Nyamannya Papandayan adalah di
setiap pos ada toilet umum dan gubuk-gubuk orang jualan. Waktu subuh itu sih
belum buka, tapi mungkin kalau siang sedikit sudah buka. Jadi tepiskan
jauh-jauh rasa khawatir akan rasa lapar haus dan kebelet hajat itu di sana.
Medan terpantau aman, Jenderal!
Oh iya, dari Camp David
menuju area perkemahan ini kurang lebih dua jam ditempuh dengan hitungan setiap
beberapa ratus meter berhenti sejenak. Hahaha. Maklum, dari 8 orang, 5 orang
anggotanya ladies. Perjalanan pun terbantu dengan
adanya tangga dan anak tangga. Sebelum mencapai Pondok Saladah Camp Area
tempat kami bernaung, ternyata ada satu area bernama Ghober Hut. Bisa juga
berkemah di situ, tapi sepertinya lebih sempit dan lebih jauh dari area hutan
mati.
07.00 hore!
Akhirnya sampai di Pondok
Saladah Camp Area. Sebelum mendirikan tenda ternyata kita harus melapor dulu
dan nanti akan diberi info area mana saja yang kosong atau sebentar lagi
kosong. Setelah memutuskan tempat mana yang akan kita dirikan tenda, nanti akan
diberi nomor tenda oleh si Bapak penjaga. Dan ulala. Saya merasa bukan sedang
ada di gunung seperti bayangan saya. Ini sih seperti sedang ada di Tangkuban
Perahu. Di situ banyak sekali lapak-lapak penjual indomie, cilok, minum, telur,
sandal jepit, sunlight,
shampoo, sabun, nasi
goreng... Mungkin beberapa tahun lagi di situ juga ada penjual nasi padang.
Hal menyenangkan yang bisa
dilakukan di gunung adalah mendirikan tenda dan memasak. Dan masakan yang
paling enak di atas gunung adalah mi instan! Hahahaha. Tak terhitung berapa
bungkus mi instan yang telah kami sikat hari itu. Alternatif lain adalah
makanan yang mudah diolah seperti telur, sarden, atau makanan cepat saji yang
dijual di supermarket-supermarket. Entah mengapa makanan yang kita nikmati di
gunung terasa lebih lezat.
Sekitar pukul 13.30 hujan
yang awalnya gerimis berubah menjadi lebat!
Astaga Omma. Rencana siang
ini mau ke hutan mati dan Tegal Alun pun buyar sudah. Berbekal mantel yang
sudah disiapkan dari Jakarta dan cangkul pinjaman dari Bapak warung, para
Mas-Mas pun seketika berperan menjadi pria macho yang rela menembus hujan untuk
mencangkul dan menciptakan parit-parit kecil di sekitar tenda. Di hati kecil
ini kami kasihan juga melihat mereka, tapi ya sudahlah. Namanya juga camping! Hahaha.
Tuesday, 15 November 2016
Wednesday, 9 November 2016
Untuk Kita yang Suka Melewati Marka
Dan
kemudian kita menjadi tahu bahwa sikap yang melampaui batas atau ‘tidak pada
ranahnya’ dapat memicu dampak yang hebat, entah menjadi lebih menyenangkan atau
menegangkan. Menginjak lantai rumah orang lain dengan sepatu kotor tanpa
permisi pasti akan mendatangkan konsekuensi, entah hanya ditegur atau sampai
dimarahi.
Yang
harus disadari adalah setiap substansi memiliki batasannya layaknya jalan raya
yang memiliki marka. Sudah berapa kali saya didenda Pak Polisi atas alasan ‘Anda
telah melanggar rambu atau marka jalan’. Tidak peduli alasan saya ‘Wah, tadi
maksud saya tidak begitu Pak’. Batasan tetaplah batasan. Pengguna lajur kiri
dilarang keras melewati garis batasnya dan mengambil jalan di lajur kanan (kecuali
dalam keadaan force majeur yang
sedang tidak saya bicarakan dalam konteks ini). Pada hakikatnya, batasan diciptakan
untuk menciptakan keteraturan dan kenyamanan bersama.
Maka
kembali menjadi perenungan bersama bahwa dalam berkehidupan sosial, apa yang terbersit
dalam hati dan pikiran tidak semuanya harus diungkapkan. Seseorang tidak kemudian
menjadi unik hanya karena mudah berkata sesuai keinginannya saja. Terkadang penting
bagi kita untuk berbagi opini dengan lingkungan yang satu circle lebih dulu sebelum melemparkannya ke luar lingkaran sosial
kita. Begitulah fungsi keluarga, rekan kerja, teman diskusi...
Seberapa
baik pun niat yang ada dalam hati, apa yang kita pikir baik untuk disampaikan
belum tentu menjadi benar untuk dilakukan. Bukan menjadi ranah saya ketika atasan
di kantor memilih untuk memakai baju warna hijau model jala-jala dipadukan
dengan sepatu merah, lalu saya pingin protes
dan mengomentarinya di depan umum. Bukan menjadi ranah saya berkomentar juga
ketika sepupu saya memilih untuk bekerja di non
profit organization dibandingkan di perusahaan swasta. Bukan menjadi ranah
saya juga ketika seorang teman memutuskan untuk memilih peran menjadi ibu rumah
tangga dan meninggalkan prestasinya di dunia kerja. Dan tetap bukan menjadi
ranah saya juga ketika saudara saya lebih memilih untuk berwirausaha
dibandingkan kerja di perusahaan orang atau menjadi PNS.
Maka
untuk kita yang masih suka melewati marka subyek yang lain, maybe better to taste our words before spit
it out (and before we regret). Penting untuk menyadari di mana posisi saat
ini kita berdiri dan memahami garis batas antar satu dan lain hal. Kita tak
pernah tau apa yang telah dialami orang lain dan apa yang menjadi keyakinan
orang lain. Kata Pak Polisi, marka jalan diciptakan supaya pengendara saling
melewati jalan yang menjadi haknya. Yang bukan haknya, jangan dilewati, guna
menghindari kericuhan yang tidak diinginkan.
Untuk orang-orang yang pernah
saya lewati markanya, mohon maaf lahir batin, saya menyesal pernah membuat
perasaannya jadi tidak enak. Semoga dimaafkan.
Untuk orang-orang yang pernah
melewati marka saya, ya sudah gak papa, gak gimana gimana. Yang sudah ya sudah.
Jakarta, 9 November 2016.
Thursday, 13 October 2016
Krisis Kehidupan Kuartal
Beberapa
waktu yang lalu ada pertanyaan dari seorang kawan di Jogja:
“Apa yang mau
kamu capai sebelum umur 30 tahun?”
Sungguh
sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab dengan cepat.
Oh ladies and gentlemen, please
give a huge welcome to quarter life crisis!
Telah
hampir seperempat abad menjalani kehidupan yang selalu terjadwal, maka kini
saatnya menjelang 25 tahun, seseorang harus mulai merencanakan hidupnya
sendiri. Diibaratkan sebagai anak panah, maka sekaranglah saatnya anak panah
itu dilepas dari busurnya untuk mencapai target yang akan dicapai. Sesukanya,
mau jadi apa saja. Kemana saja.
Dear, passion, career, and lover
(or partner?). Which one should be put on the top of our lists?
Karena
passion dan karir itu bisa berjalan
tidak beriringan, maka bebas bagi kita untuk memilih mana yang akan kita
prioritaskan untuk lakukan. Pun dengan pasangan hidup, bebas bagi kita untuk
memilih dia yang mencintai kita atau dia yang mengimbangi kita. Yang paling
penting adalah apakah yang kita pilih juga memilih kita? He he he.
Kalau
kata Pak Steve Jobs, ‘Satu-satunya jalan untuk menghasilkan karya hebat adalah
dengan mencintai apa yang anda kerjakan’. Maka berkat cinta orang tua dalam
mendidik dan membesarkan anaklah, akan tercipta seorang anak yang hebat. Berkat
mencintai kegiatan mencintai orang lain, maka akan tercipta kekasih yang hebat.
Weh....
Quarter
life crisis membawa saya dan teman lain (bagi yang masih dan sudah merasa di
fase itu) untuk berpikir mengenai hal apa yang akan didahulukan untuk
dikerjakan. Apakah kesukaan atau karir saya? Saya senang main musik, cinta
menulis, gemar berpuisi, tapi saya malas mengerjakan skripsi. Saya senang
berniaga, tapi gelar sarjana tidak penting bagi saya. Lalu bagaimana?
Sebelum
mencari dan menentukan mana aksi yang akan didahulukan, bukankah bijak bagi
kita untuk menemukan tanggungjawab sebelum menunaikan hak-hak dalam ber-passion dan berkarir. Ya nggak? Setiap orang memiliki kesukaan masing-masing,
tapi juga memiliki tanggung jawab masing-masing. Ketika seseorang berbakat di
bidang seni musik, lukis, tulis, patung,
namun melihat orang tuanya sudah berumur dan tidak lagi bekerja, apakah akan
menjadi baik baginya bila kemudian dia melulu main musik dan tidak mencari cara
untuk berdikari?
Ternyata
hidup adalah terdiri dari pemenuhan-pemenuhan tanggung jawab.
Ternyata
hidup adalah tentang aktualiasi diri.
Ternyata
hidup adalah tentang penerapan ilmu.
Passion akan menjadi lebih indah dan
bermakna ketika kita melakukannya selaras dengan tanggungjawab yang telah
dilaksanakan.
Seperti yang
selalu diajarkan oleh Almarhum Bapak saya mengenai Teori Relativitas antara
agama dan ilmu nya Pak Albert Einstein:
Science without religion is lame. Religion without
science is blind.
Jakarta, 13 Oktober 2016
Tuesday, 27 September 2016
Jakarta dan Rupa-Rupanya
Senja di pinggiran Jakarta dari lantai dua.
Menjadi
Jakartans itu mudah dan tidak mudah. Hanya harus terbiasa dengan bahasa gue-elo tanpa mengindahkan batasan usia
dengan lawan bicara, pergi pagi pulang malam yang menyebabkan kita takut sama
sinar matahari, menyetir dengan gesit (alias begajulan) sampai terbentuk karakter nggak sabar dengan cara nyetir orang di Bandung atau Jogja, lalu akrab
dan bahkan hafal sama tempat ngopi
atau mall yang sophisticated karena
memang tidak ada hiburan lain yang mudah dijumpai di sini.
Menjadi
Jakartans itu harus terbiasa sabar dan tidak sabar. Bercerita tentang saat berdesakan
di commuter line bagi rakyat yang
tinggal di kota tetangga semacam Bogor, Depok, Tangerang, Jonggol... Meskipun
sering tidak sabar saat berlomba desak-desakan menaiki kereta yang telah lama
ditunggu, tapi tak ada yang lebih sabar dari pengguna commuter line untuk tetap menggunakan commuter line di pagi dan petang. Silakan coba-coba googling dengan keyword ‘commuter line Jakarta berdesakan’. Gambar itu riil dan terjadi sehari-hari lho.
Menjadi
Jakartans itu tidak boleh malas agar tetap bisa malas-malasan. Hanya orang
tidak malas lah yang berbesar hati untuk menempuh kemacetan berjam-jam demi
kebahagiaan seisi keluarga. Orang malas mana mau mengorbankan perjalanan satu
jam demi tujuh kilometer saja. Orang malas mana mau berangkat ke kantor jam
setengah enam pagi dan pulang setengah tujuh malam, dengan waktu tempuh dua
sampai tiga jam sekali jalan. Mereka tidak boleh malas supaya setiap weekend bisa malas-malasan bersama
keluarga dengan bahagia. Bermalas-malasan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang
yang kesehariannya tidak malas.
Menjadi
Jakartans itu harus tahan dicela. Dicap sebagai warga yang mengagungkan kebebasan
tak berbatas, dibenci di kota-kota kecil akibat cara nyetirnya yang dianggap
ugal-ugalan dan mengganggu ketenangan, juga mengenai isu-isu ekonomi dan
politik yang ditengarai sebagian besar aktivitasnya hanya terpusat di Jakarta. Katanya,
Indonesia kan bukan hanya Jakarta!
Seperti
yang pernah ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam Tiada Ojek di Paris; Namun Jakarta
adalah teater yang terbuka. Dan benar, Jakarta sarat akan drama. Konflik dari
sifat-sifat manusia yang menjadi sumbernya tergelar kasatmata. Tapi bukankah
kita memang senang menonton teater sebagai penghiburan? Tak selamanya konflik
menjadi kedukaan, karena kadang di kemudian hari kita malah menertawakan.
Begitulah,
menjadi bagian dari teater terbuka adalah sebuah keputusan. Tapi tenang saja,
menjadi Jakartans tidak selalu kemudian melunturkan sisi kemanusiaan. Tidak selalu.
Kadang-kadang saja. Menjadi Jakartans sebaiknya tetap memelihara rasa penasaran
dengan kota-kota lain di sekitarnya, supaya tidak melupakan kehidupan sosial-politik-ekonomi
yang ada di luar sana. Menjadi Jakartans itu seru, asal tetap menjaga jati diri
yang sebenarnya.....
Jakarta, 28 September 2016
Saturday, 17 September 2016
Mana Advis Yang Akan Kamu Terima: ?
Dalam hidup ini banyak advis yang
pernah kita dangar dan baca, baik itu dari orang yang kita kenal maupun dari
anonim yang antah berantah dari dunia maya. Tapi tak jarang, quotes-quotes yang
kadang berhasil membuat saya ‘sadar diri’ sesaat itu dengan mudahnya
mengombang-ambingkan saya untuk mengamini satu hal di satu waktu, dan lain hal
di lain waktu.
Advis A: Pasangan hidup itu harus
saling melengkapi, untuk itulah kehidupan akan menjadi sempurna. Misal ada orang dengan pengetahuan
agama yang dirasa belum begitu baik, maka carilah pasangan yang pengetahuan
agamanya lebih baik, supaya dapat menjadi lebih baik. Jika kamu orangnya susah
mengontrol emosi, kamu harus cari orang yang sabar dan bisa mengontrol emosi
kamu.
Advis B: Pasangan hidup itu bukan dari
dua orang yang saling melengkapi, tapi dari dua orang yang sama karakternya dan
mau bekerja sama. Kalau hanya saling melengkapi, maka hubungan kalian nggak
akan kemana-mana.
Karena kalau yang satu sholat dan yang
satu nggak sholat? Capek dong yang satu harus ingetin terus pada pasangannya
untuk sholat. Yang ada, pasangan yang memang sudah sholat ini malah nggak
meningkat kualitas kehidupannya karena tidak dihadapkan dengan pasangan yang
seimbang. (Contoh diambil dari film Sabtu Bersama Bapak).
Advis A: Belajar melupakan persoalan
dengan membuang semua kenangan mengenai persoalan tersebut sampai hal terkecil
sekalipun. Buang semua hal yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Advis B: Belajar melupakan persoalan
dengan menghadapinya lebih sering, dengan tidak menolak kenyataan, dengan tidak
menghindari persoalan tersebut dengan segala asam pahit nya. Maka lama-lama
kamu akan kebal.
Advis A: Dalam berumahtangga, mutlak
kalian harus bersama di satu sampai lima tahun pernikahan, karena di situ
adalah tahun-tahun rawan persoalan besar.
Advis B: Dalam berumahtangga, di
awal-awal pernikahan karena masih dalam tahap berjuang, maka untuk sementara
saling berjauhan itu tidak apa, toh untuk masa depan juga.
Advis A: Buatlah goals dalam
hidupmu secara detail, kalau perlu tuliskan di secarik kertas dan tempelkan di
tempat-tempat yang paling sering kamu lihat.
Advis B: Hidup itu tidak usah
pakai goals-goals an, udahlah, hidup aja apa adanya yang
penting lakukan yang terbaik setiap mengerjakan sesuatu. Bisa jadi yang kita
dapatkan justru lebih besar dari yang diharapkan. Tidak mencapai goals justru
bisa membuat kamu down.
Advis A: Pilih-pilihlah dalam berteman,
jangan mau berteman dengan semua orang karena kamu harus menjaga lingkunganmu
agar tetap baik dan tidak tercemari oleh hal-hal yang tidak baik.
Advis B: Bertemanlah dengan semua
orang, supaya kamu bisa belajar banyak hal. Supaya kamu juga tau benar mana
yang baik dan mana yang kurang baik untuk dilakukan.
Advis A: Bagaimana kita bisa mengenal
karakter orang lain kalau tidak dari pacaran dulu sebelum menikah?
Advis B: Pacaran itu tidak perlu karena
pengenalan karakter itu bisa dilewati tanpa melalui tahap pacaran.
Advis A: Untuk apa kamu punya banyak
uang tapi jarang sekali bertemu keluarga?
Advis B: Kamu harus menabung dan
pintar-pintar cari uang untuk masa depanmu. (Dan akhirnya mau tak mau harus
mengorbankan sedikit waktu bersama keluarga).
Advis A: Ikutilah kata hatimu, karena
kata hati tidak pernah berbohong.
Advis B: Jangan hanya andalkan kata
hatimu, karena kata hati dan hawa nafsu itu beda tipis. Meski tidak semua hal
bisa dilogika, tapi hanya mengandalkan kata hati dalam bertindak itu berbahaya.
Seperti ABG yang menuruti kata hatinya untuk lebih memilih tawuran daripada
membaca buku.
Dan advis-advis lain yang tidak bisa
saya tuliskan satu per satu di kesempatan yang seadanya ini. Begitulah, hidup
itu terdiri dari banyak pintu. Tinggal pintu mana yang dirasa paling tepat
untukmu. Mendengarkan nasehat orang lain itu penting, tapi mendengarkan semua
nasehat itu akan menghambat untuk memutuskan sesuatu yang penting.
Subscribe to:
Posts (Atom)