Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts

Thursday, 26 January 2017

Nothing is Irreplaceable






No one is irreplaceable. I started my day by reading these four words in one line. My friend’s quote has tickled me a little bit. And drive me thinking in this whole day.

Once in awhile, we felt that something/someone is really fit and suitable for us. Whether it was our goal, dream, vission, mission, team, favorite thing, friend, partner, rival, leader, work mate, class mate, buddy, lover, or somebody/something else whatever you mention it. Feeling very comfortable when sharing some ideas with her/him, and just felt like “Oh My God, I never feel this pleasant feeling before. She/ He is really my other-half!”

But then, something has changed. Predictable or unpredictable, shortly, our ‘suitable thing’ becomes not suitable anymore. Our favorite part is not being special anymore. That ambititious goal turns and changes its direction. That finest partner slowly but sure has faded. Uncontrollably switch over with or without any logic reason.

Immediately, we see the gap from our closest person. Or we are the person who create the gap? In the end, our place can be exchanged with another person or thing. Vice versa, we can throw someone/something away from our life with no hesitation for some aims. Because we do know,  have a new one after a long lost is a possibility.

Replace or being replaced. Change or being changed. Forget or being forgotten. Chase or being chased. Hate or being hated. Love or being loved. Treat or being treated.

And how about when we are not ready to face it?
We just have to be ready any time. We just have to accept the alteration. We just have to let it be.
Just feel it, face it, and learn from it. Remember, everyone has their own time-laps. Being gentle with ourselves is a must and not negotiable. Then I understand : Somewhile we must learn to be a little bit selfish to survive.




Jakarta, 26 January 2017

Tuesday, 15 November 2016




"Cak, gimana caranya supaya kita sebagai anak muda tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik?"
"Ya..... Ya...... Ya....... Ya jangan mau terpengaruh. Kalau memang nggak mau ya bilang enggak"

(Sepenggal dialog maiyahan Cak Nun dan hadirinnya).




Wednesday, 9 November 2016

Untuk Kita yang Suka Melewati Marka



Dan kemudian kita menjadi tahu bahwa sikap yang melampaui batas atau ‘tidak pada ranahnya’ dapat memicu dampak yang hebat, entah menjadi lebih menyenangkan atau menegangkan. Menginjak lantai rumah orang lain dengan sepatu kotor tanpa permisi pasti akan mendatangkan konsekuensi, entah hanya ditegur atau sampai dimarahi.

Yang harus disadari adalah setiap substansi memiliki batasannya layaknya jalan raya yang memiliki marka. Sudah berapa kali saya didenda Pak Polisi atas alasan ‘Anda telah melanggar rambu atau marka jalan’. Tidak peduli alasan saya ‘Wah, tadi maksud saya tidak begitu Pak’. Batasan tetaplah batasan. Pengguna lajur kiri dilarang keras melewati garis batasnya dan mengambil jalan di lajur kanan (kecuali dalam keadaan force majeur yang sedang tidak saya bicarakan dalam konteks ini). Pada hakikatnya, batasan diciptakan untuk menciptakan keteraturan dan kenyamanan bersama.

Maka kembali menjadi perenungan bersama bahwa dalam berkehidupan sosial, apa yang terbersit dalam hati dan pikiran tidak semuanya harus diungkapkan. Seseorang tidak kemudian menjadi unik hanya karena mudah berkata sesuai keinginannya saja. Terkadang penting bagi kita untuk berbagi opini dengan lingkungan yang satu circle lebih dulu sebelum melemparkannya ke luar lingkaran sosial kita. Begitulah fungsi keluarga, rekan kerja, teman diskusi...

Seberapa baik pun niat yang ada dalam hati, apa yang kita pikir baik untuk disampaikan belum tentu menjadi benar untuk dilakukan. Bukan menjadi ranah saya ketika atasan di kantor memilih untuk memakai baju warna hijau model jala-jala dipadukan dengan sepatu merah, lalu saya pingin protes dan mengomentarinya di depan umum. Bukan menjadi ranah saya berkomentar juga ketika sepupu saya memilih untuk bekerja di non profit organization dibandingkan di perusahaan swasta. Bukan menjadi ranah saya juga ketika seorang teman memutuskan untuk memilih peran menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan prestasinya di dunia kerja. Dan tetap bukan menjadi ranah saya juga ketika saudara saya lebih memilih untuk berwirausaha dibandingkan kerja di perusahaan orang atau menjadi PNS.

Maka untuk kita yang masih suka melewati marka subyek yang lain, maybe better to taste our words before spit it out (and before we regret). Penting untuk menyadari di mana posisi saat ini kita berdiri dan memahami garis batas antar satu dan lain hal. Kita tak pernah tau apa yang telah dialami orang lain dan apa yang menjadi keyakinan orang lain. Kata Pak Polisi, marka jalan diciptakan supaya pengendara saling melewati jalan yang menjadi haknya. Yang bukan haknya, jangan dilewati, guna menghindari kericuhan yang tidak diinginkan.

Untuk orang-orang yang pernah saya lewati markanya, mohon maaf lahir batin, saya menyesal pernah membuat perasaannya jadi tidak enak. Semoga dimaafkan.



Untuk orang-orang yang pernah melewati marka saya, ya sudah gak papa, gak gimana gimana. Yang sudah ya sudah. 

Jakarta, 9 November 2016.

Thursday, 13 October 2016

Krisis Kehidupan Kuartal



Beberapa waktu yang lalu ada pertanyaan dari seorang kawan di Jogja:
“Apa yang mau kamu capai sebelum umur 30 tahun?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab dengan cepat.

Oh ladies and gentlemen, please give a huge welcome to quarter life crisis!
Telah hampir seperempat abad menjalani kehidupan yang selalu terjadwal, maka kini saatnya menjelang 25 tahun, seseorang harus mulai merencanakan hidupnya sendiri. Diibaratkan sebagai anak panah, maka sekaranglah saatnya anak panah itu dilepas dari busurnya untuk mencapai target yang akan dicapai. Sesukanya, mau jadi apa saja. Kemana saja.

Dear, passion, career, and lover (or partner?). Which one should be put on the top of our lists?
Karena passion dan karir itu bisa berjalan tidak beriringan, maka bebas bagi kita untuk memilih mana yang akan kita prioritaskan untuk lakukan. Pun dengan pasangan hidup, bebas bagi kita untuk memilih dia yang mencintai kita atau dia yang mengimbangi kita. Yang paling penting adalah apakah yang kita pilih juga memilih kita? He he he.

Kalau kata Pak Steve Jobs, ‘Satu-satunya jalan untuk menghasilkan karya hebat adalah dengan mencintai apa yang anda kerjakan’. Maka berkat cinta orang tua dalam mendidik dan membesarkan anaklah, akan tercipta seorang anak yang hebat. Berkat mencintai kegiatan mencintai orang lain, maka akan tercipta kekasih yang hebat. Weh....

Quarter life crisis membawa saya dan teman lain (bagi yang masih dan sudah merasa di fase itu) untuk berpikir mengenai hal apa yang akan didahulukan untuk dikerjakan. Apakah kesukaan atau karir saya? Saya senang main musik, cinta menulis, gemar berpuisi, tapi saya malas mengerjakan skripsi. Saya senang berniaga, tapi gelar sarjana tidak penting bagi saya. Lalu bagaimana?

Sebelum mencari dan menentukan mana aksi yang akan didahulukan, bukankah bijak bagi kita untuk menemukan tanggungjawab sebelum menunaikan hak-hak dalam ber-passion dan berkarir. Ya nggak? Setiap orang memiliki kesukaan masing-masing, tapi juga memiliki tanggung jawab masing-masing. Ketika seseorang berbakat di bidang  seni musik, lukis, tulis, patung, namun melihat orang tuanya sudah berumur dan tidak lagi bekerja, apakah akan menjadi baik baginya bila kemudian dia melulu main musik dan tidak mencari cara untuk berdikari?

Ternyata hidup adalah terdiri dari pemenuhan-pemenuhan tanggung jawab.
Ternyata hidup adalah tentang aktualiasi diri.
Ternyata hidup adalah tentang penerapan ilmu.

Passion akan menjadi lebih indah dan bermakna ketika kita melakukannya selaras dengan tanggungjawab yang telah dilaksanakan.

Seperti yang selalu diajarkan oleh Almarhum Bapak saya mengenai Teori Relativitas antara agama dan ilmu nya Pak Albert Einstein:
Science without religion is lame. Religion without science is blind.

Jakarta, 13 Oktober 2016



Tuesday, 27 September 2016

Jakarta dan Rupa-Rupanya

 Senja di pinggiran Jakarta dari lantai dua.

Menjadi Jakartans itu mudah dan tidak mudah. Hanya harus terbiasa dengan bahasa gue-elo tanpa mengindahkan batasan usia dengan lawan bicara, pergi pagi pulang malam yang menyebabkan kita takut sama sinar matahari, menyetir dengan gesit (alias begajulan) sampai terbentuk karakter nggak sabar dengan cara nyetir orang di Bandung atau Jogja, lalu akrab dan bahkan hafal sama tempat ngopi atau mall yang sophisticated karena memang tidak ada hiburan lain yang mudah dijumpai di sini.

Menjadi Jakartans itu harus terbiasa sabar dan tidak sabar. Bercerita tentang saat berdesakan di commuter line bagi rakyat yang tinggal di kota tetangga semacam Bogor, Depok, Tangerang, Jonggol... Meskipun sering tidak sabar saat berlomba desak-desakan menaiki kereta yang telah lama ditunggu, tapi tak ada yang lebih sabar dari pengguna commuter line untuk tetap menggunakan commuter line di pagi dan petang. Silakan coba-coba googling dengan keyword ‘commuter line Jakarta berdesakan’. Gambar itu riil dan terjadi sehari-hari lho.

Menjadi Jakartans itu tidak boleh malas agar tetap bisa malas-malasan. Hanya orang tidak malas lah yang berbesar hati untuk menempuh kemacetan berjam-jam demi kebahagiaan seisi keluarga. Orang malas mana mau mengorbankan perjalanan satu jam demi tujuh kilometer saja. Orang malas mana mau berangkat ke kantor jam setengah enam pagi dan pulang setengah tujuh malam, dengan waktu tempuh dua sampai tiga jam sekali jalan. Mereka tidak boleh malas supaya setiap weekend bisa malas-malasan bersama keluarga dengan bahagia. Bermalas-malasan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang kesehariannya tidak malas.

Menjadi Jakartans itu harus tahan dicela. Dicap sebagai warga yang mengagungkan kebebasan tak berbatas, dibenci di kota-kota kecil akibat cara nyetirnya yang dianggap ugal-ugalan dan mengganggu ketenangan, juga mengenai isu-isu ekonomi dan politik yang ditengarai sebagian besar aktivitasnya hanya terpusat di Jakarta. Katanya, Indonesia kan bukan hanya Jakarta!

Seperti yang pernah ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam Tiada Ojek di Paris; Namun Jakarta adalah teater yang terbuka. Dan benar, Jakarta sarat akan drama. Konflik dari sifat-sifat manusia yang menjadi sumbernya tergelar kasatmata. Tapi bukankah kita memang senang menonton teater sebagai penghiburan? Tak selamanya konflik menjadi kedukaan, karena kadang di kemudian hari kita malah menertawakan.

Begitulah, menjadi bagian dari teater terbuka adalah sebuah keputusan. Tapi tenang saja, menjadi Jakartans tidak selalu kemudian melunturkan sisi kemanusiaan. Tidak selalu. Kadang-kadang saja. Menjadi Jakartans sebaiknya tetap memelihara rasa penasaran dengan kota-kota lain di sekitarnya, supaya tidak melupakan kehidupan sosial-politik-ekonomi yang ada di luar sana. Menjadi Jakartans itu seru, asal tetap menjaga jati diri yang sebenarnya.....



Jakarta, 28 September 2016

Saturday, 17 September 2016

Mana Advis Yang Akan Kamu Terima: ?





Dalam hidup ini banyak advis yang pernah kita dangar dan baca, baik itu dari orang yang kita kenal maupun dari anonim yang antah berantah dari dunia maya. Tapi tak jarang, quotes-quotes yang kadang berhasil membuat saya ‘sadar diri’ sesaat itu dengan mudahnya mengombang-ambingkan saya untuk mengamini satu hal di satu waktu, dan lain hal di lain waktu.


Advis A: Pasangan hidup itu harus saling melengkapi, untuk itulah kehidupan akan menjadi sempurna. Misal ada orang dengan pengetahuan agama yang dirasa belum begitu baik, maka carilah pasangan yang pengetahuan agamanya lebih baik, supaya dapat menjadi lebih baik. Jika kamu orangnya susah mengontrol emosi, kamu harus cari orang yang sabar dan bisa mengontrol emosi kamu.
Advis B: Pasangan hidup itu bukan dari dua orang yang saling melengkapi, tapi dari dua orang yang sama karakternya dan mau bekerja sama. Kalau hanya saling melengkapi, maka hubungan kalian nggak akan kemana-mana.
Karena kalau yang satu sholat dan yang satu nggak sholat? Capek dong yang satu harus ingetin terus pada pasangannya untuk sholat. Yang ada, pasangan yang memang sudah sholat ini malah nggak meningkat kualitas kehidupannya karena tidak dihadapkan dengan pasangan yang seimbang. (Contoh diambil dari film Sabtu Bersama Bapak).

Advis A: Belajar melupakan persoalan dengan membuang semua kenangan mengenai persoalan tersebut sampai hal terkecil sekalipun. Buang semua hal yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Advis B: Belajar melupakan persoalan dengan menghadapinya lebih sering, dengan tidak menolak kenyataan, dengan tidak menghindari persoalan tersebut dengan segala asam pahit nya. Maka lama-lama kamu akan kebal.

Advis A: Dalam berumahtangga, mutlak kalian harus bersama di satu sampai lima tahun pernikahan, karena di situ adalah tahun-tahun rawan persoalan besar.
Advis B: Dalam berumahtangga, di awal-awal pernikahan karena masih dalam tahap berjuang, maka untuk sementara saling berjauhan itu tidak apa, toh untuk masa depan juga.

Advis A: Buatlah goals dalam hidupmu secara detail, kalau perlu tuliskan di secarik kertas dan tempelkan di tempat-tempat yang paling sering kamu lihat.
Advis B: Hidup itu tidak usah pakai goals-goals an, udahlah, hidup aja apa adanya yang penting lakukan yang terbaik setiap mengerjakan sesuatu. Bisa jadi yang kita dapatkan justru lebih besar dari yang diharapkan. Tidak mencapai goals justru bisa membuat kamu down.

Advis A: Pilih-pilihlah dalam berteman, jangan mau berteman dengan semua orang karena kamu harus menjaga lingkunganmu agar tetap baik dan tidak tercemari oleh hal-hal yang tidak baik.
Advis B: Bertemanlah dengan semua orang, supaya kamu bisa belajar banyak hal. Supaya kamu juga tau benar mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk dilakukan.

Advis A: Bagaimana kita bisa mengenal karakter orang lain kalau tidak dari pacaran dulu sebelum menikah?
Advis B: Pacaran itu tidak perlu karena pengenalan karakter itu bisa dilewati tanpa melalui tahap pacaran.

Advis A: Untuk apa kamu punya banyak uang tapi jarang sekali bertemu keluarga?
Advis B: Kamu harus menabung dan pintar-pintar cari uang untuk masa depanmu. (Dan akhirnya mau tak mau harus mengorbankan sedikit waktu bersama keluarga).

Advis A: Ikutilah kata hatimu, karena kata hati tidak pernah berbohong.
Advis B: Jangan hanya andalkan kata hatimu, karena kata hati dan hawa nafsu itu beda tipis. Meski tidak semua hal bisa dilogika, tapi hanya mengandalkan kata hati dalam bertindak itu berbahaya. Seperti ABG yang menuruti kata hatinya untuk lebih memilih tawuran daripada membaca buku.


Dan advis-advis lain yang tidak bisa saya tuliskan satu per satu di kesempatan yang seadanya ini. Begitulah, hidup itu terdiri dari banyak pintu. Tinggal pintu mana yang dirasa paling tepat untukmu. Mendengarkan nasehat orang lain itu penting, tapi mendengarkan semua nasehat itu akan menghambat untuk memutuskan sesuatu yang penting.


Jakarta, 18 September 2016


Wednesday, 31 August 2016

Harga Seserahan Semakin Tinggi, Jendral!



Pembahasan seru yang terjadi sebelum istirahat makan siang tadi masih melekat di ingatan saya yang tak seberapa ini. Sebut saja Pasaribu dan Tobing, kedua teman satu departemen saya yang asli bibit Batak ini sedang saling mencurahkan isi hati secara sengit akan tingginya harga sinamot dari tahun ke tahun. Kedua pria yang masih setahun dua tahun kerja ini seketika uring-uringan jika saya dan Bu supervisor (Bu Supervisor juga kebetulan orang Batak), membahas tema seserahan dalam pernikahan.
Dalam adat Batak, sinamot adalah harga atau uang yang dipersembahkan oleh mempelai pria pada mempelai wanita. Contohnya, sinamot untuk artis Astrid Tiar sebesar 150 juta rupiah. Juga untuk Riris Duma Silalahi istri penyanyi Judika. Besar kecilnya nilai sinamot bergantung pada berbagai aspek, yakni; pendidikan, pendapatan, keturunan, dan mungkin… kontur wajah! Hahahahaha. Tidak ada passing grade yang baku mengenai hal ini, tapi semua akan bermuara pada hal-hal di atas. Tentu nilai yang mencengangkan itu membuat kedua kawan seperjuangan saya itu makin tak ikhlas membayangkan biaya biaya pernikahan yang harus mereka pertanggungnkan ke depannya.
Secara teoritis memang nilainya bisa dinegosiasikan melalui musyawarah secara mufakat, namun pada praktiknya ternyata ada juga pernikahan yang tidak jadi dilangsungkan karena setelah melalui pertimbangan dan pengukuran tetap tidak menemui titik deal rate masing-masing.
Sama halnya dengan adat Jawa, pihak pria memiliki kewajiban untuk memberikan seserahan dan mahar yang ‘dianggap layak dan cukup’ (dan kalau bisa mentereng) kepada pihak wanita demi kemaslahatan dua pihak. Dengan memberikan seserahan yang prestisius dan bernilai ciamik, pihak mempelai pria akan dianggap sebagai pihak yang benar-benar sudah mampu dan pantas untuk mengambil alih peran orangtua daripada mempelai wanita. Mempelai wanita pun akan dianggap lebih 'berharga’ oleh sanak saudara dan kerabat ketika dirinya ditebus dengan nilai seserahan yang tinggi. Meskipun tak ada sertifikat setara ISO mengenai meningkatnya derajat kemanusiaan atas tingginya nilai jual di lingkungan sosialnya.
Pening juga ya jadi pria mau itu Jawa atau Batak atau Bugis atau bahkan tak bersuku sekalipun ketika memiliki rencana besar untuk meminang seorang wanita. Benar kata teman saya Tobing itu.
“Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata pernikahan?”
“Ya ikatan yang sakral, seumur hidup sekali, resepsi, foto-foto, perjuangan….”
“Kau mau tahu apa yang kami para pria pikirkan saat mendengar kata pernikahan?”
“Apa tuh?”
“Biaya!!!!!!!!!!!!!!”
Selanjutnya bisa ditebak bahwa jawaban darinya tersebut tidak bisa saya jawab kembali demi mencoba memahami isi hati tetangga kubikel saya ini.
Dalam hati saya hanya berkata “Oh, gitu ya. Iya juga ya…..”
Ingat, menikah adalah bersatunya kedua keluarga, bukan hanya dua insan saja. Jadi meskipun mempelai pria dan wanita sudah bersepakat bulat untuk menyederhanakan nilai mahar alias sinamot alias panaik alias upeti namun ada satu pihak keluarga yang belum satu suara, maka nada yang keluar belum bisa terdengar merdu.
Dengan demikian telah sampailah saya pada satu kesimpulan yang hakiki bahwa mengapa orang zaman dulu kekeuh dengan bibit, bebet, dan bobotnya, ya salah satunya supaya kedua keluarga lebih mudah menyamakan suara menjadi nada nada yang harmoni. Intinya biar mudah sepakat!
Dengan keluarga yang sama sama suka hal simpel dan sederhana asal halal dan pantas serta cukup, maka seberapapun akan dianggap cukup. Seberapapun akan diterima dengan ikhlas, karena nilai seorang manusia sungguh tak bisa dibandingkan dengan emas batangan lima ratus gram dan berjejer kosmetik korea dan sepatu plus tas eropa. Mereka tak akan mempersulit pihak pria dengan deretan persyaratan mahar yang jika dikalkulasikan bisa seharga rumah dua kapling tipe tiga enam.
Dan wejangan yang tak lekang oleh waktu kepada kaum pria: hendaklah mematut diri sebelum mengajukan proposal kepada pihak wanita. Jangan pula kau minta orang tua pihak wanita memberikan anaknya padamu secara cuma cuma namun kau sendiri mengurus diri sendiri pun tak bisa! Jika memang kemampuan finansial masih sebatas 'cukup untuk makan dan sedikit menabung’, maka bolehlah menambah kebisaanmu di bidang lain. Dengan memperkaya ilmu pengetahuan agama, ilmu pengetahuan alam, sekaligus ilmu pengetahuan sosial, mana tahu menambah poin dirimu di mata bapak ibu di doi.
Semua pasti masih bisa dinegosiasikan. Asal kedua keluarga mengenal konsep negosiasi ya, bukan harga pas! Hahaha.

Saturday, 6 August 2016

Sederhana




Jika Raisa punya lagu "Kali Kedua" yang menceritakan bahwa dia kembali jatuh cinta dan tidak bisa move on dari mantan, tidak dengan saya sekarang. Lagu ini cocok menjadi mars kebangsaan saya di beberapa bulan yang lalu saja, saat saya mencoba mengulangi kembali hubungan yang pernah berjalan tidak baik. Memang benar kita bisa jatuh cinta dengan orang yang sama untuk kedua, tiga, empat kalinya. Tapi sungguh itu bukan pondasi yang kuat bagi kedua manusia untuk bekerjasama membangun hubungan yang mumpuni.

Cinta yang tidak diolah dengan benar bisa bertransformasi menjadi ego yang sulit dikendalikan. Ambisi yang dibalut sedemikian rupa pun juga bisa dibelokkan namanya menjadi cinta. Itulah mengapa penting bagi kita untuk mampu menerjemahkan sikap dari partner kita, apakah cinta ataukah ego? Jika yang membuat saya mengambil keputusan untuk kembali memulai hubungan yang pernah gagal hanya karena merasa terlanjur atau 'sayang aja kalau gak diteruskan', maka itu adalah ego. Hubungan yang saling membawa ego yang berbeda namun dipaksakan, persepsi yang belum sepaham, hanya akan menjadikan hati dan jiwa keduanya lelah dan terluka; babak belur.

Kadang manusia menilai; "Dia kan sudah berjuang mati matian, jadi sayang kalo ditolak", tanpa menilik lebih jauh ke dalam hubungan tersebut, maka komentar tersebut tidak bisa dipercayai menjadi advis tunggal yang hakiki. Kekerasan hati untuk tetap mempertahankan hubungan yang tidak menentramkan kedua belah pihak adalah kebodohan yang absolut. Mengapa saya bilang menentramkan? Karena memang bukan kebahagiaan yang kita cari dalam hubungan antar manusia, tetapi ketentraman.

Dan jangan pula menjadi pribadi yang terlalu percaya diri bahwa partner hanya akan bahagia jika dan hanya jika hidup dengan kita. Hanya karena kita tahu bahwa cinta kita begitu besar padanya, bukan berarti bahwa kita adalah orang yang paling tepat untuk seseorang. Bebaskanlah orang lain dalam memilih. Meski tindakanmu benar dan baik, belum tentu mendatangkan kenyamanan bagi calon partnermu. Meski perhatianmu mampu menyaingi Kapten Yoo pada Dokter Kang*, tapi yang harus tetap disadari adalah; setiap orang memiliki hak memilih dan tidak memilih. Orang yang tidak memilih kita sebagai orang yang berada di lingkaran pergaulannya bukan berarti tidak menyukai kita, dan kita pun tidak perlu pula menjadi tidak menyukai mereka. Masing-masing individu memiliki 'frekuensi' yang berbeda, yang membuat dia merasa nyaman dengan pribadi A, namun menjadi tidak nyambung jika bergaul dengan pribadi B. Semua itu biasa, tidak perlu dibesar-besarkan.

Kehidupan yang demokratis adalah cita-cita segala bangsa. Pun demikian pada hubungan yang lebih privat. Keputusan untuk memberi kebebasan pada orang lain untuk memilih adalah demokrasi. Yang utama bagi keduanya adalah tetap memelihara konsistensi dan integritas. Hidup ini sederhana saja, berkata sesuai dengan apa yang terjadi, dan menerima apa yang telah terjadi. Seiring berjalannya waktu, kenyamanan dan ketentraman lah yang akan menyuburkan cinta.

Jakarta, 7 Agustus 2016
*Tokoh utama serial drama Korea 'Descendants of the Sun'.

Disemogakan




Bagi saya saat ini, menikah tidak semudah yang saya bayangkan setahun yang lalu. Jika kemarin saya menganggap diri saya telah siap lahir batin dengan hidup yang baru, namun sekarang tidak demikian. Saya telah mundur beberapa langkah untuk dapat melihat objek pernikahan secara lebih gamblang. Dan saya menyadari, bahwa setahun yang lalu Allah menyelamatkan saya dari keputusan yang tergesa. Allah ingin saya menjadi pribadi yang lebih matang dulu. Saya masih harus banyak mencari bekal untuk mengarungi perjalanan kelak.

Entah mana yang benar, tapi dalam benak saya tersadar, bahwa sebenarnya yang menikah itu kedua keluarga. Bukan (hanya) sepasang wanita dan pria. Telah banyak fenomena yang saya lihat, baik dari orang yang saya kenal maupun hanya sekedar 'kenalannya teman', bahwa banyak terjadi kegagalan pernikahan yang disebabkan ketidaksetujuan salah satu pihak keluarga, atau bahkan kedua keluarga. Padahal kedua anaknya tidak ada masalah sama sekali, dan bahkan saling mendukung dan menerima.

Orang tua memiliki porsi yang sangat besar dalam menentukan masa depan anaknya. Bahkan jodohnya. Jadi, keberhasilan orangtua saya berumahtangga merupakan keberhasilan dari orangtua mereka dong ya? Karena saya tahu bahwa keputusan Ibu saya akhirnya memilih Bapak saya merupakan anjuran dari Kakek saya setelah melihat dari banyak pertimbangan, dan pasti itu yang terbaik dari yang baik.

Namun pun, meski sudah melalui berbagai filterisasi dari banyak sisi, kemantapan hati tak bisa dirumuskan secara matematis untuk mendapatkannya. Bisa jadi menurut kita orangnya sudah santun, agamanya baik, hubungan dengan teman juga baik, bisa diandalkan untuk mencari materi, tapi sekali orang tua tidak setuju, maka sirna sudah, harus kembali gerilya mencari kandidat lain.

Bagi saya, Tuhan memberikan petunjuk-Nya melalui orang tua. Saya bahagia menjalani sesuatu yang membahagiakan orang tua saya. Saya menjadi ikut menyukai apa yang orang tua saya sukai. Dan disitulah bekal saya dalam memilih pendamping hidup kelak. Saya tidak tahu bagaimana sepenuhnya diri saya. Orang tua saya lebih tau. Saya memutuskan untuk tidak menaruh rasa pada siapapun saat ini. Saya berusaha untuk menyimpan rasa ini pada dia yang akan menjadi pendamping hidup saya kelak. Dia yang memberi ketenangan pada keluarga saya ketika saya kelak akan menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Maka bagi saya, tidak ada yang lebih membahagiakan dari sepasang suami istri yang orang tua dari kedua belah pihak meridhoi kedua-Nya. Dan saya bercita-cita menjadi yang terbahagiakan itu. Toh saya rasa kriteria yang orang tua saya patokkan juga tidak jauh berbeda dengan apa yang saya harapkan. Perbedaan lainnya semoga masih bisa dinegosiasikan. 

Melihat teman satu persatu menikah tidak membuat saya semakin ingin untuk menikah. Justru sebaliknya. Perasaan saya semakin tak menentu saat melihat dan terlibat dalam menyiapkan acara pernikahan. Saya semakin merasa belum pantas untuk menyandang gelar nyonya di waktu-waktu sekarang. Saya masih belum menemukan keberanian untuk memilih satu di antara yang serius menawarkan masa depan pada saya. Saya masih memikirkan bagaimana Ibu saya akan membiayai acara pernikahan nanti. Saya masih berangan untuk bisa memberangkatkan umroh Ibu saya. Sedangkan tabungan masih di ambang batas bawah. Banyak hal-hal materialistis yang masih menjadi pikiran saya. Dan bagi saya itu realistis. Atau sebenarnya pesimistis dan mencoba permisif terhadap kepercayaan saya saat ini?

Kapanpun itu waktu saya akan tiba, saya berdoa semoga masih ada waktu bagi saya untuk menyiapkan yang terbaik bagi kedua keluarga. Keluarga saya dan keluarga calon suami saya kelak. Ketika kedua keluarga telah merasa mendapatkan menantu terbaik, maka saya yakin benar bahwa calon suami saya saat itulah yang terbaik bagi saya. Dan kami akan berjalan dengan tidak ada lagi keraguan keraguan. 

Disemogakan.
Jakarta, 6 Agustus 2016

*Tulisan ini ditulis oleh penulis secara sangat subjektif

Thursday, 28 July 2016

Hidup adalah Buah dari Pilihan-Pilihan







The Day Before 25 ;
Hidup adalah Buah dari Pilihan-Pilihan

Waktu masih SMP, saya membayangkan jika nanti usia saya 24 tahun itu rasanya pasti bakal sudah dewasa banget. Masih dalam bayangan saya, usia 24 nanti itu pasti saya sudah tidak cengeng lagi, sudah mandiri dalam segala hal, sudah mantap memilih karir, sudah bisa beli ini itu sendiri, dan..... sudah menikah! Hahaha.
Tapi seiring berjalannya waktu dan hari ini saya telah sampai di usia 24 tahun lewat sedikit, ternyata saya masih merasa seperti yang kemarin-kemarin saja. Masih mudah tergoncang emosinya, masih sering merepotkan orang lain, masih mikir-mikir dalam berkarir, masih harus berjuang hemat-hemat demi membeli barang yang diinginkan, dan.......belum menikah! Hahahahahahhahahaha.
Menengok ke belakang, hidup ini begitu variatif. Jatuh bangun, naik turun, babak belur, dan berbagai perkembangan perasaan lainnya telah saya alami hingga membentuk saya menjadi seperti hari ini. Sampai akhirnya saya menemukan satu nilai hidup; hidup memang harus direncanakan, tapi rencana melenceng sedikit itu oke oke saja karena Allah tahu kejutan terbaik untuk manusia. Jika kemarin saya masih jadi orang yang terlalu ‘saklek’ dan mudah merasa kecewa terhadap putusan Allah, maka semakin kesini saya sadar bahwa everything happens for a reason.
Lemah di pelajaran eksak dan itung-itungan adalah telah saya sadari sebagai kekurangan saya sejak kelas lima SD. Nilai mencongak saya kalau tidak empat ya maksimal tujuh. Gitu-gitu aja terus. Berlanjut sampai di bangku SMA, masuklah saya di jurusan IPS karena nilainya tidak mampu menembus persaingan masuk IPA. Tetapi, kok lagi-lagi saya ditemukan dengan pelajaran Akuntansi yang notabene isinya hitung-hitungan semua! Sampai akhirnya pernah saya lontarkan kalimat “Udah ah, aku nggak mau lagi belajar Akuntansi! Aku nggak akan daftar kuliah jurusan Akuntansi!”
Namun takdir Tuhan berkata lain. Saya kembali dipertemukan dengan hal yang tidak saya sukai itu dan bahkan harus mendalaminya. Keputusan aneh ini berawal dari celetukan Ibu saya supaya saya mencoba memasukkan jurusan Akuntansi sebagai pilihan pertama dalam ujian masuk kuliah. Saya sih dengan pede dan haqqul yaqin menuruti saran Ibu saya, karena dalam hati saya berkata “Biarin aja, nyenengin orang tua, wong kayaknya saya nggak mungkin lolos juga”. Lumayan surprise dan tergagap-gagap saat mengetahui bahwa saya harus bertanggungjawab atas pilihan itu. Habislah tujuh semester itu saya bersusah payah memahami materi-materi kuliah yang rasanya lebih sulit dipahami dari perasaan saya sendiri.
Saat memasuki semester akhir kuliah, saya menyadari bahwa kebebasan minim tanggung jawab tinggal sebentar lagi. Artinya, saya sudah harus atur strategi menjelang berakhirnya masa belajar di universitas. Dengan berjanji pada diri sendiri, bahwa selepas wisuda harus sudah bisa hidup dengan biaya sendiri. Terdengar materalistis ya, tapi bagi saya itulah bentuk tanggung jawab pertama yang bisa saya baktikan terhadap orang tua sebagai rasa terima kasih atas jerih payah mereka selama ini. Rasanya begitu campur aduk dan harap-harap cemas menanti hasil dari setiap selesai mengikuti rekruitmen. Syukurlah saat itu masih ada jeda tiga bulan sejak lulus ujian skripsi menuju wisuda.
Penantian saya terjawab, tapi dalam keadaan yang sungguh tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya menerima telepon bahwa saya diterima bekerja di sebuah perusahaan yang ada di Jakarta di........ rumah sakit! Iya, saya menerima kabar gembira itu di rumah sakit! Waktu itu Ibu saya dirawat satu minggu karena harus operasi atas tulangnya yang retak, terpeleset di masjid selepas subuh. Saya tidak bisa menjawab offering saat itu juga.
Saya menerima telepon di balkon rumah sakit. Beberapa menit setelah saya mencerna kabar apa yang baru saja saya terima, saya kembali masuk ke kamar di mana Ibu saya dirawat. Diam saja dan tidak membahas apapun yang berkaitan dengan seleksi. Namun ternyata Ibu memang selalu tahu apa yang dirasakan anaknya tanpa anaknya harus bicara. Pada saat itu juga Ibu saya menanyakan kabar seleksi-seleksi yang pernah saya ikuti. Dengan penuh haru, kami pun berpelukan selepas saya menceritakan bahwa lima menit yang lalu saya lolos seleksi dan diterima kerja di Jakarta.
Saat itulah saya sadar bahwa saya kembali harus membuat pilihan besar dalam hidup; apakah saya akan menerima tawaran ini dan berangkat ke Jakarta dua hari setelah wisuda atau tetap stay di Jogja dan mencari pekerjaan lain hingga Ibu saya sembuh? Saat itulah saya merasakan betul apa artinya keluarga. Niatan saya untuk menolak offering disanggah oleh kakak, Ibu, tante, dan om saya. Mereka memberi pandangan bahwa Ibu saya akan sembuh sebulan dua bulan lagi, tapi kesempatan saya tidak datang dua kali. Dan pada akhirnya saya memilih apa yang dipilihkan oleh keluarga saya,  karena saya yakin itu adalah yang terbaik.
Lebih dari satu tahun telah saya nikmati ibukota Indonesia. Kembali teringat bahwa saya berada di Jakarta ini juga ada ceritanya, yaitu salah satunya karena kena karma atas omongan saya sendiri. Di tahun 2013-2014, ketika teman sebaya sudah merencanakan mimpi akan bekerja di Jakarta, saya adalah orang yang paling tidak tertarik dengan Jakarta dan malas dengan bayangan kemacetan-kemacetan di sini. “Saya sih mau mau saja kerja di luar Jogja, yang penting jangan di Jakarta! Saya nggak mau kerja di Jakarta, bayangin macetnya aja udah capek!”. Tapi di sinilah aku di sini sekarang.
Sungguh malu sama Allah karena banyak kalimat-kalimat saya yang telah terucap namun  mendahului kehendak-Nya. Dan yang bikin lebih malu, kalimat itu akhirnya justru berbalik ke diri saya sendiri, dan justru saya mendapat berkah dan rezeki dari hal yang awalnya saya benci itu. Itulah mengapa kita tidak boleh terlalu mencintai atau membenci sesuatu, karena yang kita cintai bisa jadi tidak baik untuk kita, namun yang kita benci justru yang terbaik untuk kita.
Dan kini tibalah pada saat untuk memilih hal besar bagi saya yang akan berlaku seumur hidup. Yakni memilih pendamping hidup. Pendamping hidup yang bisa menjadi imam, sekaligus teman, orang tua, kakak, adik, saudara, mentor, dan partner dalam segala hal. Dari sekian pilihan besar dalam hidup, bagi saya memilih pendamping adalah yang paling rumit dan penuh dengan berjuta pertimbangan. Perjuangan untuk mencapai ke sana pun masih samar-samar kapan akan menemui hasilnya. Namun apapun itu, saya yakin bahwa semua akan indah pada waktunya.


Banyak cerita di perjalanan saya dalam menentukan ‘pilihan terakhir’ ini, yang  membuat mata saya semakin terbuka lebar. Bahwa persiapan menjalani bahtera rumah tangga bukan hanya mengenai persiapan materi, namun juga kesiapan mental, kedewasaan diri, juga kematangan dalam berpikir. Bagaimana dan siapakah nanti yang menjadi jodoh saya, saya akan menuliskannya kembali di lain cerita. Yang penting jangan terlalu membenci sesuatu, dan jangan terlalu mencintai sesuatu! Hahahaha. Tunggu kisah saya selanjutnya ya.

                                                                                                          Jakarta, 27 Juli 2016

Monday, 27 June 2016

Rezeki, Jodoh, dan Mati



Apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah Allah izinkan menjadi milik yang lain. Pun apa yang telah ditakdirkan untuk orang lain, tidak akan pernah Allah izinkan untuk jadi milikmu. Rezekimu akan menjadi milikmu, jodohmu nanti akan menemuimu, dan kematianmu akan menjemputmu, kapanpun Allah telah rencanakan. Harus diusahakan, tapi tidak bisa kita paksakan.

Hal paling sepele yang menjadi contoh adalah ketika saya dan teman saya membeli gorengan jauh dari kota Depok, dibeli secara lunas, dan direncanakan akan kami nikmati sesampainya di Jakarta. Sudah sah dan halal kan secara akad? Sudah bisa kita nikmati toh? Tapi ternyata oh ternyata, atas nama kelalaian kami berdua, gorengan yang berisi mendoan terkenal asal Depok yang telah kami impi-impikan itu jatuh di jalan! Seluruhnya! Seplastik-plastiknya! Dan kami tidak menyadari.

Setingkat di atas hal sepele di atas, contohnya ketika saya menerima pengumuman pendaftaran kuliah. Pagi itu masih buta, jam 5, dan pengumuman dapat dilihat secara online. Kami sekeluarga berkumpul mengelililingi laptop, dan saya melakukan login. Alhamdulillah lolos! Senangnya! Hari itu pun berlalu dengan cerahnya. Iseng-iseng saya lihat portal itu lagi sore jam 4, lha kok, tulisannya berubah menjadi; “Mohon maaf Anda belum diterima di Jurusan ini”. Ya jelas hati ini mencelos, jantung seperti ketinggalan di suatu tempat yang lain, lutut rasanya kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh. Ya ampun. Saya nggak jadi diterima nih? Ibu saya pun membantu mencarikan info melalui temannya, mengenai apa yang terjadi dengan portal ini? PHP tingkat duniawi! Saya ingat betul sore itu Ibu saya membawa saya pergi jalan-jalan ke toko hape karena saya jadi murung dan sedih. Maksud hati beliau ya untuk menghibur saya. (Wah, hiburannya mahal ya).

Namun kembali lagi pada prinsip rezeki tidak akan salah pintu. Ternyata memang siang sampai sore itu portalnya sedang down. Kamipun mampir ke warnet di dekat toko hape (lumayan lah dapat hape), dan mengecek kembali portal tersebut. Kata teman Ibuku, sekarang portalnya sudah valid dan hakiki. Dag dig dug menit dan menit itu kulalui. Dan ternyata, masih menjadi rezeki saya! Ditambah lagi dengan hape itu kan? Kesedihan yang berakhir dengan kegembiraan yang berlipat toh?

Sungguh Allah memang Maha Asyik dalam menunjukkan kuasa-Nya.
Yang ikhlas dan sabar aja.



Jakarta, 27 Juni 2016

Wednesday, 24 February 2016

Memaknai Kehilangan







Menginjak 20 tahun membuat saya semakin sadar. Bahwa pada setiap langkah yang diayun akan ada efek domino yang mengikuti. Entah hanya berdampak dua hari, tiga minggu, empat bulan, lima tahun, atau bahkan selamanya. Semakin sadar bahwa hal tersulit yang harus kita pelajari dalam hidup adalah belajar ikhlas dan menerima apa yang sudah menjadi kodratnya untuk kita terima. Bukan, benar-benar bukan tentang fisik atau materi. Tapi lebih kepada sesuatu yang sudah berusaha mati-matian kita perjuangkan tapi hasilnya justru jauh dari yang kita ekspektasikan.

 Saya teringat kisah Najwa Sihab, presenter cantik dan kritis itu suatu hari pernah hadir dalam satu acara talkshow dan bercerita soal kekecewaan terbesarnya yang pernah dirasakan. Hal itu diawali saat dia mengandung putrinya, selama tiga atau empat bulan dia harus menjalani bed rest dan menghentikan seluruh aktivitasnya jika ingin bayi yang ada di dalam perutnya terjaga. Pasalnya, kondisi si bayi dinyatakan sangat lemah dan rentan. Bayangkan, selama berbulan-bulan itu dia harus berada di tempat tidur dan tidak boleh bergerak sedikitpun. Jangankan Najwa Sihab yang biasa padat aktivitas, saya yang masih sering malas-malasan pun sangat mungkin stress jika ditantang tidur selama berbulan-bulan dan tidak boleh menggeser tubuh barang sesenti saja. Tapi apa mau dibantah, keputusan yang diberikan Allah SWT tidak sama dengan harapan wanita yang menikah di usia 20 tahun ini. Bayinya hanya mampu bertahan selama 4 hari dan kemudian dipanggil ke pangkuan Allah SWT. Berat dan sakit, pasti itu yang dirasakannya. Dan rangkaian prosa kata lain yang tidak mampu saya definisikan karena memang tidak ada yang bisa mewakili kacaunya perasaaan manusia. 

Semenjak itu saya kembali disadarkan bahwa hidup itu tidak perlu ngoyo. Sama seperti dosen Analisis dan Desain Sistem saya di kampus. “Hidup itu tidak usah punya target-targetan. Jalani saja sebaik mungkin dan nggak perlu ngoyo”. Secara bahasa memang mudah untuk diucapkan, tapi dalam kehidupan sebenarnya? Sama sekali tidak. Manusia adalah makhluk yang dipenuhi dengan segudang hawa nafsu yang dibiarkannya mengganti nama dengan target, atau impian, atau capaian, atau apapun itu. 

Yang jelas manusia zaman dahulu sampai sekarang masih sama. Masih senang sibuk mengurusi kesenangannya dan mati-matian mengurusi capaian yang belum tentu ingin dia raih. Faktor lingkungan dan gaya hidup yang semakin aneh-aneh menuntut manusia memiliki tambahan keinginan yang kadang tidak masuk akal. Alat komunikasi seharga motor baru, atau motor seharga mobil keluarga, atau mobil seharga rumah satu komplek. Seakan tidak pernah jera, sudah berkali-kali mengalami tapi sekan tidak pernah pula belajar dari pengalaman. Saya pernah menyesali suatu hal karena tidak memperjuangkan. Tapi saya kembali menyesali dan lebih menyesali ketika hal yang benar-benar saya perjuangkan justru melenceng jauh dari perkiraan. Akibatnya fatal. Bukan hanya saya yang kecewa. Tapi juga keluarga, teman-teman, sahabat, dan sederet orang kecewa lainnya yang tidak mengungkapkan kekecewaannya pada saya.

Lalu saya berpikir. Mungkin ini bukan soal bagaimana cara saya meraih apa yang saya perjuangkan. Tapi lebih dalam dari hal itu. Mengenai apa yang saya perjuangkan. Mungkin memang selama ini apa yang saya perjuangkan justru belum tepat. Atau bahkan sama sekali tidak tepat. Atau cara saya dalam memilih hal yang saya perjuangkan adalah salah. 

Tidak ada yang mampu menyembuhkan sakit hati kecuali niat dari diri kita sendiri. Pun saya pribadi percaya bahwa kehilangan bukan hanya tentang bagaimana mengobati rasa sakit akibat kehilangan itu. Tapi mengenai keharusan kita dalam mendeteksi orang-orang terdekat yang sangat ingin kita nikmati waktu bersama mereka hingga habis usia. Setelah tahu apa yang kita butuhkan, sudah tentu kita akan menjaga itu sepenuh hati. Sehingga setelahnya, kita tidak akan pernah merasa takut untuk kehilangan.

Catatan ini ditulis di Yogyakarta pada 23 September 2014

Tuesday, 10 November 2015

Kejujuran & Kemarahan

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://izquotes.com


Jujur dan marah adalah dua emosi yang awalnya saya pikir tidak saling terikat, atau malah berbanding terbalik. Sejak kecil, para siswa di sekolah diajarkan untuk menjunjung tinggi kejujuran dan mengendalikan rasa marah. Bahkan kalau bisa, jangan marah. Tapi pun, pada akhirnya dua hal itu diinterpretasikan secara berbeda oleh masing-masing individu. Bebas. Tidak ada batasan. Selama kejujuran itu berangkat dari niat baik, rasanya sah-sah saja diungkapkan. Sampai terbitlah kalimat populer “terimalah kejujuran meskipun itu pahit”.

Hingga pada suatu hari saya menyadari sesuatu yang mungkin memang sudah banyak orang sadari. Orang marah itu kemudian sering berkata lebih jujur.

Banyak kejujuran-kejujuran yang tak terungkap, disembunyikan rapat-rapat oleh mereka yang merasa masih ingin menjaga perasaan orang lain. Tapi pun, banyak pula terungkapnya kejujuran justru  dari meluapnya rasa marah seseorang. Entah mana cara yang lebih manis.


Ada seseorang berkata pada saya : “jangan dengerin omongan dia, namanya juga orang lagi marah”.


Tapi benarkah?
Benarkah bahwa memang kita tidak boleh mendengarkan kata-kata orang yang marah?

Sepanjang perjalanan hidup, berkali-kali saya menghadapi orang marah dengan caranya masing-masing. Dengan segala kalimat yang terucapkan, (meskipun kadang di luar batas bayangan untuk bisa didengarkan), dalam setiap kemarahan ada kejujuran. Kejujuran yang terus tersimpan rapi, dan pada akhirnya harus dikeluarkan karena berbagai hal. Bisa jadi memang kotak kejujuran dalam hati orang tersebut sudah terlalu penuh, jadi harus dibagi saat itu juga. Atau bisa jadi, kemarahan itu sudah melebihi rasa ‘keinginan menjaga perasaan’ orang lain. Pada akhirnya, semua sama. Pada setiap kemarahan ada kejujuran.

Meskipun memang benar, kejujuran yang diungkapkan secara baik-baik lebih mudah diterima orang lain daripada kejujuran yang diungkapkan ketika dia diliputi rasa marah.

Tidak semua kejujuran itu harus diungkapkan. Tidak semua yang kita rasakan harus diucapkan.  

Sebagai manusia normal yang beberapa kali menerima luapan rasa marah orang lain, kadang mata hati saya buta. Bahwa ada kejujuran di balik kemarahan orang tersebut. Ada alasan di balik kalimat-kalimat yang tajam. Ada maksud di balik ucapan-ucapan.

Tapi memang butuh kesabaran yang luar biasa untuk mampu memilah kejujuran di balik rasa marah seseorang. Butuh rasa memaafkan yang begitu besar untuk menyisihkan kemarahan dan mempercayai kejujuran.

Maka dari itu, benar kata nenek moyang bahwa buatlah perhitungan ketika sedang marah. Marahlah jika memang harus marah, tapi hati-hati dengan semua kalimat yang terucap meskipun itu ada kejujuran.

Saya teringat pesan dari Almarhum Bapak saya :
Meskipun sedang marah, kita tidak boleh sampai mengucapkan sesuatu yang mendahului takdir.”

Yang dimaksud dengan sesuatu yang mendahului takdir adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan, tapi kita sudah menyatakan. Contoh simpelnya adalah ucapan “aku nggak mau ngomong lagi sama kamu”.
Meskipun itu ‘hanya’ dianggap kemarahan sesaat, ternyata hal itu jauh lebih baik tidak diucapkan. Alasan logisnya adalah: kita tidak pernah tahu, apakah kita bisa untuk selamanya memang tidak berbicara dengan orang tersebut? Bagaimana jika suatu hari kita butuh bantuan dari orang itu? Apakah kita bisa untuk selamanya memang mau untuk tidak berbicara dengan orang tersebut? Apakah kita benar-benar senang ketika ucapan itu benar-benar terjadi selamanya?

Selamat mengungkapkan kejujuran. Selamat menjaga kemarahan.
Selamat belajar menerima kemarahan. Selamat mencari kejujuran.



Jakarta, 10 November 2015

Kehidupan




Mengalah lah sampai tidak ada lagi yang bisa mengalahkanmu.
Merendah lah sampai tidak ada lagi yang bisa merendahkanmu.


Dalam hidup, beberapa kali terjadi hal yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak. But it was really really happen.

Berantem dengan sahabat kecil dan jarang komunikasi hingga umur dua puluhan.
Masuk di sekolah favorit dambaan anak-anak di zaman SD.
Tidak masuk di jurusan kuliah yang diinginkan.
Mendapat dosen bimbingan yang killer.
Merusakkan barang kesayangan kakak/adik padahal baru saja dibeli.
Harus merantau untuk menuntut ilmu/bekerja dan jauh dari keluarga.
Memiliki teman penyuka sesama jenis.
Melihat  kasus perampasan di depan mata kepala sendiri.
Kehilangan anggota keluarga,
dan masih banyak hal ajaib lainnya terjadi tanpa pernah terbayang sebelumnya....


Hidup memang  gak asik  jika terus menerus diberi jalan mulus.
Baru tahu rasanya manis ketika pernah mengecap rasa pahit.
Baru tahu bersyukurnya permah memiliki sesuatu setelah kehilangan.
  


Sebab hidup ini tak pernah benar-benar selamanya.
Selalu ada cahaya setelah kita dengan yakin meninggalkan kegelapan.
Maka jangan pernah sekalipun menempatkan orang lain dalam ruang gelap ketika kamu tahu bahwa kamu tak punya cahaya untuk menerangi.


Allah tak pernah memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya.
Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram. (QS. Ar-Ra’du 28)



Jakarta, 10 November 2015
Blogger Babes are Sophisticated Bloggers Seeking Simple Solutions and Support indonesian hijabblogger