Sunday, 4 September 2016

Weekend di KualaLumpur 3D2N Tanpa Cuti

Perjalanan ini adalah perjalan singkat dan sangat mendadak. Keputusan untuk join jalan ke Kuala Lumpur dilatarbelakangi oleh sifat kekanakan saya yang akhirnya keukeuh dan nggak mau kalah, tetep mau ikut Kakak dan Ibu saya yang sudah merencanakan pergi ke KL sejak lama. Sayangnya sebagai anak kantoran yang masih newbie, saya segan untuk mengajukan cuti meski untuk setengah hari saja.  Jadilah saya nekat mengambil tiket penerbangan hari Jumat pukul 21.00. sedangkan Kakak dan Ibu saya sudah sampai di KL sejak hari Kamis.


JUMAT, 2 Oktober 2015



H-2 saya baru membeli tiket pesawat, dan H-1 baru saya membeli tiket hostel untuk hari pertama. Jadi di Jumat malam setelah dari bandara, saya memutuskan akan menginap di hotel terdekat dari bandara saja, karena keluarga menginap di daerah kota, Bukit Bintang. Saya pikir-pikir kembali, dulu saya bener-bener nggak mikir deh kayaknya, kok bisa-bisanya nekat mau nginep sendiri padahal sampai di KL bakal tengah malam. Tapi namanya juga itikad. Maju terus pantang mundur, komandan! Sejak pukul 18.30 sudah ada di bandara dengan ransel dan tas jinjing kecil semata wayang. Single fighter!


Saya lupa dan bener-bener lupa kalau ada perbedaan waktu antara Indonesia dan KL. Jadi flight agak mundur sejam dan saya sampai sana itu jam 01.00 waktu KL. Ehem.  Saya speechless karena tak membayangkan bakal sampai sana se-tengah malam itu. Iseng punya iseng, saya beranikan diri nanya ke Mbak-Mbak cantik di sebelah saya, bagaimana cara memilih taksi resmi dan aman di bandara. Dan keajaiban itu datang. Dengan sebelumnya menunjukkan keterkejutannya yang teramat sangat atas kenekatan saya, dia pun menawari dan setengah memaksa saya untuk diantar olehnya dan pacarnya sampai ke hostel di daerah Sepang. Mereka bilang daerah Sepang itu rawan dan berbahaya, apalagi tengah malam begini. Syukurlah. Jadi pacar Mbak-Mbak itu orang KL, jadi dia dijemput naik mobil dan saya pun diantar oleh mereka sampai ke hotel. Ya ampun, tak hentinya saya bersyukur atas kebaikan yang mereka berikan ini.



Nah, alasan saya memilih hostel backpacker, itu karena saya menyadari bahwa saya hanya membutuhkan tempat transit saja, which is tidak lebih dari tujuh jam. Setelah melalui penyaringan sana sini saya memutuskan untuk memilih “The Youniq Hotel” di daerah Salak Tinggi Business Park, Sepang. Sebenarnya mereka menyediakan kamar normal, tapi kembali lagi karena saya hanya butuh beberapa jam saja sendirian, maka saya memilih shared dormitory room (women only). Waktu itu saya dapat harga Rp 196,086 per malam, termasuk breakfast! Senengnya di sini adalah, breakfast nya lumayan banyak, tidak hanya roti dan selai saja. Kekurangan dari tempat ini adalah daerah sekitarnya itu sepi, dan gelap. Jadi hotel ini benar-benar hanya direkomendasikan untuk transit saja.



Kasurnya cukup empuk, masing-masing bed ada locker pribadi dan kunci. Juga disediakan colokan listrik. Koneksi wifi juga masih bisa diandalkan meskipun mati nyala mati nyala. Keberuntungan saya lainnya yaitu dari sepuluh bed yang ada di situ, isinya hanya saya! Hihihi. Jadi semalam itu saya benar-benar menikmati kesunyian sendiri. Cailah. Tapi nyaman kok, ber-AC. Sayangnya tidak ada penutup bed ya, jadi saya membayangkan kalau sedang ada beberapa orang di kamar itu, sepertinya kurang nyaman kalau tempat tidurnya pun tidak ada penutup.





















Ini toiletnya. Ada pintu tersambung di ujung ruangan itu, menuju toilet yang juga khusus wanita. Lumayan bersih juga, ada air panas, tapi tidak besar.
 



Sayang sekali saya lupa ambil foto menu sarapan pagi itu. Tapi lumayan lho, dengan harga yang saya bayar masih dapat sarapan yang bisa memilih, antara roti-rotian, laksa, atau kah bubur. Tempat makannya juga nyaman banget dan cukup luas. Selain itu, desain lobi hotelnya meski tidak terlalu luas tapi cukup menarik untuk foto-foto.









 


                        



SABTU, 3 Oktober 2015
Pukul tujuh pagi saya sudah bersiap check-out dan menuju ke hotel Kakak dan Ibu saya di daerah Bukit Bintang. Tujuan saya yaitu stasiun MRT terdekat, yaitu Stasiun Salak Tinggi. Karena tidak ada taksi yang berlalu lalang, (kawasan di depan hotel itu seperti ring road, atau jalan tol deh. Jadi di sekitar hotel hanya ada hotel-hotel lain yang seukuran. Tidak ada pemukiman. Mau tidak mau, saya harus menggunakan taksi hotel yang kalau dirupiahkan jadi sekitar Rp 100.000 dari hotel ke stasiun Salak Tinggi. Mengingat bapak supirnya adalah bapak-bapak berwajah India gitu, agak deg-degan lho waktu naik taksi! Apalagi lewatnya daerah yang penuh semak-semak. Hiiii. Hanya bisa berdoa dan berdoa.

Stasiun Salak Tinggi, stasiunnya kecil, tidak ramai, tapi bersih. 









Horeee, sekitar satu jam menikmati perjalanan, saya sudah sampai di Stasiun Bukit Bintang. Ini lingkungan yang saya lihat sepanjang keluar kereta sampai ke jalan raya:









Lucunya, pemandangan pertama yang saya temui di jalanan selepas turun dari kereta adalah pembangunan jalan sedang berlangsung, dan girder yang mereka gunakan adalah merek yang kantor saya jualan. Hahahaha. Nggak di kantor, nggak di KL, kok ya ketemunya MHE-Demag!





Finally! Setelah muterin blok di sekitar sini selama beberapa puluh menit, saya pun menemukan hotel yang sangat kucari-cari ini. Kakak dan Ibu saya menunggu-nunggu di lobi hotel yang terlihat seperti akuarium karena transparan. Rasanya bahagia campur haru, ingin menangis karena akhirnya ketemu mereka lagi tapi di negara lain. Huhhh dasar lebaay. Daerah Jalan Alor, Bukit Bintang ini menjadi daerah favorit para pelancong karena melimpahnya tempat kuliner di sini.  





Setelah menimbang dan memutuskan, jam 10-an kami pun memutuskan untuk keluar entah kemana. Karena sifat kunjungan adalah dadakan dan minim browsing, kami asal aja menentukan tujuan, yakni ke daerah Central Market. Kami turun di Stasiun Pasar Seni.



 




Central Market
Central Market ini seperti pasar modern, yang didalamnya dijual bermacam oleh-oleh dan kerajinan. Juga coklat-coklat. Kami membeli semua coklat oleh-oleh di sini. Barang yang dijual sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia, tapi lumayan asik daerahnya.








Sayang sekali di hp saya tidak ada foto-foto isinya Central Market. Waktu itu ada di hp Ibu saya, tapi saat ini hpnya sudah mati karena terendam es teh! Hahaha. Selepas lelah berjalan-jalan, Ibu saya yang sudah mulai lapar mulai menengok dagangan di sekitar. Beliau tergoda oleh sebuah restoran yang ada stiker tripadvisor di depan. Artinya, restoran ini boleh dicoba dong. Namanya restoran “Yusoof dan Zakhir”. Dan memang benar! Harus dicoba lagi kalau balik ke sini.






Saya lupa banget nama menunya apa, tapi bagi kalian yang bisa mentolerir makanan bersantan, ini surga dan enak! Apalagi minumnya sama milo Malaysia yang terkenal beda rasanya dengan Milo Indonesia itu. Hmmm. 

Petaling Street
Perjalanan selanjutnya adalah Petaling Street, yang ternyata tidak jauh dari situ. Cukup berjalan kaki saja. Isinya ya lagi-lagi orang jualan berbagai macam benda!
























Batu Caves
Meskipun hari sebelumnya Ibu dan Kakak saya sudah ke Batu Caves, tapi karena saya pengen banget foto bareng burung merpati di sana, akhirnya mereka menemaniku ke Batu Caves. Dari Stasiun Pasar Seni naik kereta, tapi saya lupa turun di stasiun mana. Hihihi.














Menara Kembar Petronas
Setelah dari Batu Caves, si Ibu memutuskan untuk pulang duluan ke hotel, dan saya lanjut ke Menara Kembar Petronas. Rasanya tidak afdhol ya kalau ke KL tapi belum ke menara kembar tersohor ini. Btw untuk bisa mengambil foto itu, diperlukan perjuangan keras lho, karena buaanyaknya orang yang berjajar-jajar di sana. Hahahaha.


          


Untuk menuju hotel kembali, kami menggunakan bus GOKL yang notabene gratis! Hihihi. Bus nya berwarna pink ke-unguan ini.



Street Food – Jalan Alor
Ini dia kondisi Jalan Alor di malam hari dari atas hotel. Hmmmmm. Yang di bawah berderet itu mobil-mobil yang diapit kursi dan meja penjual makanan lho! Melimpah dan tinggal pilih pokoknya.
                         














Minggu, 4 Oktober 2015
Hanya semalam saja saya menginap di daerah Bukit Bintang ini. Keesokan harinya kami harus check-out. Kami menginap di Nova Hotel, dengan fasilitas sarapan. Hotelnya sepertinya sudah cukup tua, dan furnitur-nya tidak terlalu baru. Tapi sekali lagi karena tertolong oleh lingkungan yang asik, jadi saya fine-fine saja. 



Putrajaya
Karena masih ada waktu beberapa jam, kami memutuskan untuk mampir sebentar ke Dataran Merdeka, Putrajaya. Lumayan lah untuk sekedar mengisi waktu dan berfoto-foto.















Demikian akhir dari perjalanan ini. Saya harus kembali ke Jakarta, dan Ibu serta Kakak saya terbang lebih dulu menuju kampung halaman, Jogja! Buat saya piknik yang singkat ini sangat menyenangkan. Liburan bersama keluarga benar-benar membawa kesegaran tersendiri bagi saya. Kami menjadi lebih kompak, merasakan susah senang bersama-sama. Semoga masih ada kesempatan-kesempatan berikutnya ya, siapa tahu tahun ini atau tahun depan personilnya nambah! Hahahahaha.

Kuala Lumpur Airport


Makan dulu sebelum pulang di Papa Rich. Laksanya enak, yang foto atas rasanya... tak ingin mengulangi lagi! Hahahahah.









Wednesday, 31 August 2016

Harga Seserahan Semakin Tinggi, Jendral!



Pembahasan seru yang terjadi sebelum istirahat makan siang tadi masih melekat di ingatan saya yang tak seberapa ini. Sebut saja Pasaribu dan Tobing, kedua teman satu departemen saya yang asli bibit Batak ini sedang saling mencurahkan isi hati secara sengit akan tingginya harga sinamot dari tahun ke tahun. Kedua pria yang masih setahun dua tahun kerja ini seketika uring-uringan jika saya dan Bu supervisor (Bu Supervisor juga kebetulan orang Batak), membahas tema seserahan dalam pernikahan.
Dalam adat Batak, sinamot adalah harga atau uang yang dipersembahkan oleh mempelai pria pada mempelai wanita. Contohnya, sinamot untuk artis Astrid Tiar sebesar 150 juta rupiah. Juga untuk Riris Duma Silalahi istri penyanyi Judika. Besar kecilnya nilai sinamot bergantung pada berbagai aspek, yakni; pendidikan, pendapatan, keturunan, dan mungkin… kontur wajah! Hahahahaha. Tidak ada passing grade yang baku mengenai hal ini, tapi semua akan bermuara pada hal-hal di atas. Tentu nilai yang mencengangkan itu membuat kedua kawan seperjuangan saya itu makin tak ikhlas membayangkan biaya biaya pernikahan yang harus mereka pertanggungnkan ke depannya.
Secara teoritis memang nilainya bisa dinegosiasikan melalui musyawarah secara mufakat, namun pada praktiknya ternyata ada juga pernikahan yang tidak jadi dilangsungkan karena setelah melalui pertimbangan dan pengukuran tetap tidak menemui titik deal rate masing-masing.
Sama halnya dengan adat Jawa, pihak pria memiliki kewajiban untuk memberikan seserahan dan mahar yang ‘dianggap layak dan cukup’ (dan kalau bisa mentereng) kepada pihak wanita demi kemaslahatan dua pihak. Dengan memberikan seserahan yang prestisius dan bernilai ciamik, pihak mempelai pria akan dianggap sebagai pihak yang benar-benar sudah mampu dan pantas untuk mengambil alih peran orangtua daripada mempelai wanita. Mempelai wanita pun akan dianggap lebih 'berharga’ oleh sanak saudara dan kerabat ketika dirinya ditebus dengan nilai seserahan yang tinggi. Meskipun tak ada sertifikat setara ISO mengenai meningkatnya derajat kemanusiaan atas tingginya nilai jual di lingkungan sosialnya.
Pening juga ya jadi pria mau itu Jawa atau Batak atau Bugis atau bahkan tak bersuku sekalipun ketika memiliki rencana besar untuk meminang seorang wanita. Benar kata teman saya Tobing itu.
“Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata pernikahan?”
“Ya ikatan yang sakral, seumur hidup sekali, resepsi, foto-foto, perjuangan….”
“Kau mau tahu apa yang kami para pria pikirkan saat mendengar kata pernikahan?”
“Apa tuh?”
“Biaya!!!!!!!!!!!!!!”
Selanjutnya bisa ditebak bahwa jawaban darinya tersebut tidak bisa saya jawab kembali demi mencoba memahami isi hati tetangga kubikel saya ini.
Dalam hati saya hanya berkata “Oh, gitu ya. Iya juga ya…..”
Ingat, menikah adalah bersatunya kedua keluarga, bukan hanya dua insan saja. Jadi meskipun mempelai pria dan wanita sudah bersepakat bulat untuk menyederhanakan nilai mahar alias sinamot alias panaik alias upeti namun ada satu pihak keluarga yang belum satu suara, maka nada yang keluar belum bisa terdengar merdu.
Dengan demikian telah sampailah saya pada satu kesimpulan yang hakiki bahwa mengapa orang zaman dulu kekeuh dengan bibit, bebet, dan bobotnya, ya salah satunya supaya kedua keluarga lebih mudah menyamakan suara menjadi nada nada yang harmoni. Intinya biar mudah sepakat!
Dengan keluarga yang sama sama suka hal simpel dan sederhana asal halal dan pantas serta cukup, maka seberapapun akan dianggap cukup. Seberapapun akan diterima dengan ikhlas, karena nilai seorang manusia sungguh tak bisa dibandingkan dengan emas batangan lima ratus gram dan berjejer kosmetik korea dan sepatu plus tas eropa. Mereka tak akan mempersulit pihak pria dengan deretan persyaratan mahar yang jika dikalkulasikan bisa seharga rumah dua kapling tipe tiga enam.
Dan wejangan yang tak lekang oleh waktu kepada kaum pria: hendaklah mematut diri sebelum mengajukan proposal kepada pihak wanita. Jangan pula kau minta orang tua pihak wanita memberikan anaknya padamu secara cuma cuma namun kau sendiri mengurus diri sendiri pun tak bisa! Jika memang kemampuan finansial masih sebatas 'cukup untuk makan dan sedikit menabung’, maka bolehlah menambah kebisaanmu di bidang lain. Dengan memperkaya ilmu pengetahuan agama, ilmu pengetahuan alam, sekaligus ilmu pengetahuan sosial, mana tahu menambah poin dirimu di mata bapak ibu di doi.
Semua pasti masih bisa dinegosiasikan. Asal kedua keluarga mengenal konsep negosiasi ya, bukan harga pas! Hahaha.

Saturday, 6 August 2016

Sederhana




Jika Raisa punya lagu "Kali Kedua" yang menceritakan bahwa dia kembali jatuh cinta dan tidak bisa move on dari mantan, tidak dengan saya sekarang. Lagu ini cocok menjadi mars kebangsaan saya di beberapa bulan yang lalu saja, saat saya mencoba mengulangi kembali hubungan yang pernah berjalan tidak baik. Memang benar kita bisa jatuh cinta dengan orang yang sama untuk kedua, tiga, empat kalinya. Tapi sungguh itu bukan pondasi yang kuat bagi kedua manusia untuk bekerjasama membangun hubungan yang mumpuni.

Cinta yang tidak diolah dengan benar bisa bertransformasi menjadi ego yang sulit dikendalikan. Ambisi yang dibalut sedemikian rupa pun juga bisa dibelokkan namanya menjadi cinta. Itulah mengapa penting bagi kita untuk mampu menerjemahkan sikap dari partner kita, apakah cinta ataukah ego? Jika yang membuat saya mengambil keputusan untuk kembali memulai hubungan yang pernah gagal hanya karena merasa terlanjur atau 'sayang aja kalau gak diteruskan', maka itu adalah ego. Hubungan yang saling membawa ego yang berbeda namun dipaksakan, persepsi yang belum sepaham, hanya akan menjadikan hati dan jiwa keduanya lelah dan terluka; babak belur.

Kadang manusia menilai; "Dia kan sudah berjuang mati matian, jadi sayang kalo ditolak", tanpa menilik lebih jauh ke dalam hubungan tersebut, maka komentar tersebut tidak bisa dipercayai menjadi advis tunggal yang hakiki. Kekerasan hati untuk tetap mempertahankan hubungan yang tidak menentramkan kedua belah pihak adalah kebodohan yang absolut. Mengapa saya bilang menentramkan? Karena memang bukan kebahagiaan yang kita cari dalam hubungan antar manusia, tetapi ketentraman.

Dan jangan pula menjadi pribadi yang terlalu percaya diri bahwa partner hanya akan bahagia jika dan hanya jika hidup dengan kita. Hanya karena kita tahu bahwa cinta kita begitu besar padanya, bukan berarti bahwa kita adalah orang yang paling tepat untuk seseorang. Bebaskanlah orang lain dalam memilih. Meski tindakanmu benar dan baik, belum tentu mendatangkan kenyamanan bagi calon partnermu. Meski perhatianmu mampu menyaingi Kapten Yoo pada Dokter Kang*, tapi yang harus tetap disadari adalah; setiap orang memiliki hak memilih dan tidak memilih. Orang yang tidak memilih kita sebagai orang yang berada di lingkaran pergaulannya bukan berarti tidak menyukai kita, dan kita pun tidak perlu pula menjadi tidak menyukai mereka. Masing-masing individu memiliki 'frekuensi' yang berbeda, yang membuat dia merasa nyaman dengan pribadi A, namun menjadi tidak nyambung jika bergaul dengan pribadi B. Semua itu biasa, tidak perlu dibesar-besarkan.

Kehidupan yang demokratis adalah cita-cita segala bangsa. Pun demikian pada hubungan yang lebih privat. Keputusan untuk memberi kebebasan pada orang lain untuk memilih adalah demokrasi. Yang utama bagi keduanya adalah tetap memelihara konsistensi dan integritas. Hidup ini sederhana saja, berkata sesuai dengan apa yang terjadi, dan menerima apa yang telah terjadi. Seiring berjalannya waktu, kenyamanan dan ketentraman lah yang akan menyuburkan cinta.

Jakarta, 7 Agustus 2016
*Tokoh utama serial drama Korea 'Descendants of the Sun'.

Disemogakan




Bagi saya saat ini, menikah tidak semudah yang saya bayangkan setahun yang lalu. Jika kemarin saya menganggap diri saya telah siap lahir batin dengan hidup yang baru, namun sekarang tidak demikian. Saya telah mundur beberapa langkah untuk dapat melihat objek pernikahan secara lebih gamblang. Dan saya menyadari, bahwa setahun yang lalu Allah menyelamatkan saya dari keputusan yang tergesa. Allah ingin saya menjadi pribadi yang lebih matang dulu. Saya masih harus banyak mencari bekal untuk mengarungi perjalanan kelak.

Entah mana yang benar, tapi dalam benak saya tersadar, bahwa sebenarnya yang menikah itu kedua keluarga. Bukan (hanya) sepasang wanita dan pria. Telah banyak fenomena yang saya lihat, baik dari orang yang saya kenal maupun hanya sekedar 'kenalannya teman', bahwa banyak terjadi kegagalan pernikahan yang disebabkan ketidaksetujuan salah satu pihak keluarga, atau bahkan kedua keluarga. Padahal kedua anaknya tidak ada masalah sama sekali, dan bahkan saling mendukung dan menerima.

Orang tua memiliki porsi yang sangat besar dalam menentukan masa depan anaknya. Bahkan jodohnya. Jadi, keberhasilan orangtua saya berumahtangga merupakan keberhasilan dari orangtua mereka dong ya? Karena saya tahu bahwa keputusan Ibu saya akhirnya memilih Bapak saya merupakan anjuran dari Kakek saya setelah melihat dari banyak pertimbangan, dan pasti itu yang terbaik dari yang baik.

Namun pun, meski sudah melalui berbagai filterisasi dari banyak sisi, kemantapan hati tak bisa dirumuskan secara matematis untuk mendapatkannya. Bisa jadi menurut kita orangnya sudah santun, agamanya baik, hubungan dengan teman juga baik, bisa diandalkan untuk mencari materi, tapi sekali orang tua tidak setuju, maka sirna sudah, harus kembali gerilya mencari kandidat lain.

Bagi saya, Tuhan memberikan petunjuk-Nya melalui orang tua. Saya bahagia menjalani sesuatu yang membahagiakan orang tua saya. Saya menjadi ikut menyukai apa yang orang tua saya sukai. Dan disitulah bekal saya dalam memilih pendamping hidup kelak. Saya tidak tahu bagaimana sepenuhnya diri saya. Orang tua saya lebih tau. Saya memutuskan untuk tidak menaruh rasa pada siapapun saat ini. Saya berusaha untuk menyimpan rasa ini pada dia yang akan menjadi pendamping hidup saya kelak. Dia yang memberi ketenangan pada keluarga saya ketika saya kelak akan menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Maka bagi saya, tidak ada yang lebih membahagiakan dari sepasang suami istri yang orang tua dari kedua belah pihak meridhoi kedua-Nya. Dan saya bercita-cita menjadi yang terbahagiakan itu. Toh saya rasa kriteria yang orang tua saya patokkan juga tidak jauh berbeda dengan apa yang saya harapkan. Perbedaan lainnya semoga masih bisa dinegosiasikan. 

Melihat teman satu persatu menikah tidak membuat saya semakin ingin untuk menikah. Justru sebaliknya. Perasaan saya semakin tak menentu saat melihat dan terlibat dalam menyiapkan acara pernikahan. Saya semakin merasa belum pantas untuk menyandang gelar nyonya di waktu-waktu sekarang. Saya masih belum menemukan keberanian untuk memilih satu di antara yang serius menawarkan masa depan pada saya. Saya masih memikirkan bagaimana Ibu saya akan membiayai acara pernikahan nanti. Saya masih berangan untuk bisa memberangkatkan umroh Ibu saya. Sedangkan tabungan masih di ambang batas bawah. Banyak hal-hal materialistis yang masih menjadi pikiran saya. Dan bagi saya itu realistis. Atau sebenarnya pesimistis dan mencoba permisif terhadap kepercayaan saya saat ini?

Kapanpun itu waktu saya akan tiba, saya berdoa semoga masih ada waktu bagi saya untuk menyiapkan yang terbaik bagi kedua keluarga. Keluarga saya dan keluarga calon suami saya kelak. Ketika kedua keluarga telah merasa mendapatkan menantu terbaik, maka saya yakin benar bahwa calon suami saya saat itulah yang terbaik bagi saya. Dan kami akan berjalan dengan tidak ada lagi keraguan keraguan. 

Disemogakan.
Jakarta, 6 Agustus 2016

*Tulisan ini ditulis oleh penulis secara sangat subjektif

Thursday, 28 July 2016

Hidup adalah Buah dari Pilihan-Pilihan







The Day Before 25 ;
Hidup adalah Buah dari Pilihan-Pilihan

Waktu masih SMP, saya membayangkan jika nanti usia saya 24 tahun itu rasanya pasti bakal sudah dewasa banget. Masih dalam bayangan saya, usia 24 nanti itu pasti saya sudah tidak cengeng lagi, sudah mandiri dalam segala hal, sudah mantap memilih karir, sudah bisa beli ini itu sendiri, dan..... sudah menikah! Hahaha.
Tapi seiring berjalannya waktu dan hari ini saya telah sampai di usia 24 tahun lewat sedikit, ternyata saya masih merasa seperti yang kemarin-kemarin saja. Masih mudah tergoncang emosinya, masih sering merepotkan orang lain, masih mikir-mikir dalam berkarir, masih harus berjuang hemat-hemat demi membeli barang yang diinginkan, dan.......belum menikah! Hahahahahahhahahaha.
Menengok ke belakang, hidup ini begitu variatif. Jatuh bangun, naik turun, babak belur, dan berbagai perkembangan perasaan lainnya telah saya alami hingga membentuk saya menjadi seperti hari ini. Sampai akhirnya saya menemukan satu nilai hidup; hidup memang harus direncanakan, tapi rencana melenceng sedikit itu oke oke saja karena Allah tahu kejutan terbaik untuk manusia. Jika kemarin saya masih jadi orang yang terlalu ‘saklek’ dan mudah merasa kecewa terhadap putusan Allah, maka semakin kesini saya sadar bahwa everything happens for a reason.
Lemah di pelajaran eksak dan itung-itungan adalah telah saya sadari sebagai kekurangan saya sejak kelas lima SD. Nilai mencongak saya kalau tidak empat ya maksimal tujuh. Gitu-gitu aja terus. Berlanjut sampai di bangku SMA, masuklah saya di jurusan IPS karena nilainya tidak mampu menembus persaingan masuk IPA. Tetapi, kok lagi-lagi saya ditemukan dengan pelajaran Akuntansi yang notabene isinya hitung-hitungan semua! Sampai akhirnya pernah saya lontarkan kalimat “Udah ah, aku nggak mau lagi belajar Akuntansi! Aku nggak akan daftar kuliah jurusan Akuntansi!”
Namun takdir Tuhan berkata lain. Saya kembali dipertemukan dengan hal yang tidak saya sukai itu dan bahkan harus mendalaminya. Keputusan aneh ini berawal dari celetukan Ibu saya supaya saya mencoba memasukkan jurusan Akuntansi sebagai pilihan pertama dalam ujian masuk kuliah. Saya sih dengan pede dan haqqul yaqin menuruti saran Ibu saya, karena dalam hati saya berkata “Biarin aja, nyenengin orang tua, wong kayaknya saya nggak mungkin lolos juga”. Lumayan surprise dan tergagap-gagap saat mengetahui bahwa saya harus bertanggungjawab atas pilihan itu. Habislah tujuh semester itu saya bersusah payah memahami materi-materi kuliah yang rasanya lebih sulit dipahami dari perasaan saya sendiri.
Saat memasuki semester akhir kuliah, saya menyadari bahwa kebebasan minim tanggung jawab tinggal sebentar lagi. Artinya, saya sudah harus atur strategi menjelang berakhirnya masa belajar di universitas. Dengan berjanji pada diri sendiri, bahwa selepas wisuda harus sudah bisa hidup dengan biaya sendiri. Terdengar materalistis ya, tapi bagi saya itulah bentuk tanggung jawab pertama yang bisa saya baktikan terhadap orang tua sebagai rasa terima kasih atas jerih payah mereka selama ini. Rasanya begitu campur aduk dan harap-harap cemas menanti hasil dari setiap selesai mengikuti rekruitmen. Syukurlah saat itu masih ada jeda tiga bulan sejak lulus ujian skripsi menuju wisuda.
Penantian saya terjawab, tapi dalam keadaan yang sungguh tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya menerima telepon bahwa saya diterima bekerja di sebuah perusahaan yang ada di Jakarta di........ rumah sakit! Iya, saya menerima kabar gembira itu di rumah sakit! Waktu itu Ibu saya dirawat satu minggu karena harus operasi atas tulangnya yang retak, terpeleset di masjid selepas subuh. Saya tidak bisa menjawab offering saat itu juga.
Saya menerima telepon di balkon rumah sakit. Beberapa menit setelah saya mencerna kabar apa yang baru saja saya terima, saya kembali masuk ke kamar di mana Ibu saya dirawat. Diam saja dan tidak membahas apapun yang berkaitan dengan seleksi. Namun ternyata Ibu memang selalu tahu apa yang dirasakan anaknya tanpa anaknya harus bicara. Pada saat itu juga Ibu saya menanyakan kabar seleksi-seleksi yang pernah saya ikuti. Dengan penuh haru, kami pun berpelukan selepas saya menceritakan bahwa lima menit yang lalu saya lolos seleksi dan diterima kerja di Jakarta.
Saat itulah saya sadar bahwa saya kembali harus membuat pilihan besar dalam hidup; apakah saya akan menerima tawaran ini dan berangkat ke Jakarta dua hari setelah wisuda atau tetap stay di Jogja dan mencari pekerjaan lain hingga Ibu saya sembuh? Saat itulah saya merasakan betul apa artinya keluarga. Niatan saya untuk menolak offering disanggah oleh kakak, Ibu, tante, dan om saya. Mereka memberi pandangan bahwa Ibu saya akan sembuh sebulan dua bulan lagi, tapi kesempatan saya tidak datang dua kali. Dan pada akhirnya saya memilih apa yang dipilihkan oleh keluarga saya,  karena saya yakin itu adalah yang terbaik.
Lebih dari satu tahun telah saya nikmati ibukota Indonesia. Kembali teringat bahwa saya berada di Jakarta ini juga ada ceritanya, yaitu salah satunya karena kena karma atas omongan saya sendiri. Di tahun 2013-2014, ketika teman sebaya sudah merencanakan mimpi akan bekerja di Jakarta, saya adalah orang yang paling tidak tertarik dengan Jakarta dan malas dengan bayangan kemacetan-kemacetan di sini. “Saya sih mau mau saja kerja di luar Jogja, yang penting jangan di Jakarta! Saya nggak mau kerja di Jakarta, bayangin macetnya aja udah capek!”. Tapi di sinilah aku di sini sekarang.
Sungguh malu sama Allah karena banyak kalimat-kalimat saya yang telah terucap namun  mendahului kehendak-Nya. Dan yang bikin lebih malu, kalimat itu akhirnya justru berbalik ke diri saya sendiri, dan justru saya mendapat berkah dan rezeki dari hal yang awalnya saya benci itu. Itulah mengapa kita tidak boleh terlalu mencintai atau membenci sesuatu, karena yang kita cintai bisa jadi tidak baik untuk kita, namun yang kita benci justru yang terbaik untuk kita.
Dan kini tibalah pada saat untuk memilih hal besar bagi saya yang akan berlaku seumur hidup. Yakni memilih pendamping hidup. Pendamping hidup yang bisa menjadi imam, sekaligus teman, orang tua, kakak, adik, saudara, mentor, dan partner dalam segala hal. Dari sekian pilihan besar dalam hidup, bagi saya memilih pendamping adalah yang paling rumit dan penuh dengan berjuta pertimbangan. Perjuangan untuk mencapai ke sana pun masih samar-samar kapan akan menemui hasilnya. Namun apapun itu, saya yakin bahwa semua akan indah pada waktunya.


Banyak cerita di perjalanan saya dalam menentukan ‘pilihan terakhir’ ini, yang  membuat mata saya semakin terbuka lebar. Bahwa persiapan menjalani bahtera rumah tangga bukan hanya mengenai persiapan materi, namun juga kesiapan mental, kedewasaan diri, juga kematangan dalam berpikir. Bagaimana dan siapakah nanti yang menjadi jodoh saya, saya akan menuliskannya kembali di lain cerita. Yang penting jangan terlalu membenci sesuatu, dan jangan terlalu mencintai sesuatu! Hahahaha. Tunggu kisah saya selanjutnya ya.

                                                                                                          Jakarta, 27 Juli 2016

Monday, 27 June 2016

Rezeki, Jodoh, dan Mati



Apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah Allah izinkan menjadi milik yang lain. Pun apa yang telah ditakdirkan untuk orang lain, tidak akan pernah Allah izinkan untuk jadi milikmu. Rezekimu akan menjadi milikmu, jodohmu nanti akan menemuimu, dan kematianmu akan menjemputmu, kapanpun Allah telah rencanakan. Harus diusahakan, tapi tidak bisa kita paksakan.

Hal paling sepele yang menjadi contoh adalah ketika saya dan teman saya membeli gorengan jauh dari kota Depok, dibeli secara lunas, dan direncanakan akan kami nikmati sesampainya di Jakarta. Sudah sah dan halal kan secara akad? Sudah bisa kita nikmati toh? Tapi ternyata oh ternyata, atas nama kelalaian kami berdua, gorengan yang berisi mendoan terkenal asal Depok yang telah kami impi-impikan itu jatuh di jalan! Seluruhnya! Seplastik-plastiknya! Dan kami tidak menyadari.

Setingkat di atas hal sepele di atas, contohnya ketika saya menerima pengumuman pendaftaran kuliah. Pagi itu masih buta, jam 5, dan pengumuman dapat dilihat secara online. Kami sekeluarga berkumpul mengelililingi laptop, dan saya melakukan login. Alhamdulillah lolos! Senangnya! Hari itu pun berlalu dengan cerahnya. Iseng-iseng saya lihat portal itu lagi sore jam 4, lha kok, tulisannya berubah menjadi; “Mohon maaf Anda belum diterima di Jurusan ini”. Ya jelas hati ini mencelos, jantung seperti ketinggalan di suatu tempat yang lain, lutut rasanya kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh. Ya ampun. Saya nggak jadi diterima nih? Ibu saya pun membantu mencarikan info melalui temannya, mengenai apa yang terjadi dengan portal ini? PHP tingkat duniawi! Saya ingat betul sore itu Ibu saya membawa saya pergi jalan-jalan ke toko hape karena saya jadi murung dan sedih. Maksud hati beliau ya untuk menghibur saya. (Wah, hiburannya mahal ya).

Namun kembali lagi pada prinsip rezeki tidak akan salah pintu. Ternyata memang siang sampai sore itu portalnya sedang down. Kamipun mampir ke warnet di dekat toko hape (lumayan lah dapat hape), dan mengecek kembali portal tersebut. Kata teman Ibuku, sekarang portalnya sudah valid dan hakiki. Dag dig dug menit dan menit itu kulalui. Dan ternyata, masih menjadi rezeki saya! Ditambah lagi dengan hape itu kan? Kesedihan yang berakhir dengan kegembiraan yang berlipat toh?

Sungguh Allah memang Maha Asyik dalam menunjukkan kuasa-Nya.
Yang ikhlas dan sabar aja.



Jakarta, 27 Juni 2016

Wednesday, 24 February 2016

Memaknai Kehilangan







Menginjak 20 tahun membuat saya semakin sadar. Bahwa pada setiap langkah yang diayun akan ada efek domino yang mengikuti. Entah hanya berdampak dua hari, tiga minggu, empat bulan, lima tahun, atau bahkan selamanya. Semakin sadar bahwa hal tersulit yang harus kita pelajari dalam hidup adalah belajar ikhlas dan menerima apa yang sudah menjadi kodratnya untuk kita terima. Bukan, benar-benar bukan tentang fisik atau materi. Tapi lebih kepada sesuatu yang sudah berusaha mati-matian kita perjuangkan tapi hasilnya justru jauh dari yang kita ekspektasikan.

 Saya teringat kisah Najwa Sihab, presenter cantik dan kritis itu suatu hari pernah hadir dalam satu acara talkshow dan bercerita soal kekecewaan terbesarnya yang pernah dirasakan. Hal itu diawali saat dia mengandung putrinya, selama tiga atau empat bulan dia harus menjalani bed rest dan menghentikan seluruh aktivitasnya jika ingin bayi yang ada di dalam perutnya terjaga. Pasalnya, kondisi si bayi dinyatakan sangat lemah dan rentan. Bayangkan, selama berbulan-bulan itu dia harus berada di tempat tidur dan tidak boleh bergerak sedikitpun. Jangankan Najwa Sihab yang biasa padat aktivitas, saya yang masih sering malas-malasan pun sangat mungkin stress jika ditantang tidur selama berbulan-bulan dan tidak boleh menggeser tubuh barang sesenti saja. Tapi apa mau dibantah, keputusan yang diberikan Allah SWT tidak sama dengan harapan wanita yang menikah di usia 20 tahun ini. Bayinya hanya mampu bertahan selama 4 hari dan kemudian dipanggil ke pangkuan Allah SWT. Berat dan sakit, pasti itu yang dirasakannya. Dan rangkaian prosa kata lain yang tidak mampu saya definisikan karena memang tidak ada yang bisa mewakili kacaunya perasaaan manusia. 

Semenjak itu saya kembali disadarkan bahwa hidup itu tidak perlu ngoyo. Sama seperti dosen Analisis dan Desain Sistem saya di kampus. “Hidup itu tidak usah punya target-targetan. Jalani saja sebaik mungkin dan nggak perlu ngoyo”. Secara bahasa memang mudah untuk diucapkan, tapi dalam kehidupan sebenarnya? Sama sekali tidak. Manusia adalah makhluk yang dipenuhi dengan segudang hawa nafsu yang dibiarkannya mengganti nama dengan target, atau impian, atau capaian, atau apapun itu. 

Yang jelas manusia zaman dahulu sampai sekarang masih sama. Masih senang sibuk mengurusi kesenangannya dan mati-matian mengurusi capaian yang belum tentu ingin dia raih. Faktor lingkungan dan gaya hidup yang semakin aneh-aneh menuntut manusia memiliki tambahan keinginan yang kadang tidak masuk akal. Alat komunikasi seharga motor baru, atau motor seharga mobil keluarga, atau mobil seharga rumah satu komplek. Seakan tidak pernah jera, sudah berkali-kali mengalami tapi sekan tidak pernah pula belajar dari pengalaman. Saya pernah menyesali suatu hal karena tidak memperjuangkan. Tapi saya kembali menyesali dan lebih menyesali ketika hal yang benar-benar saya perjuangkan justru melenceng jauh dari perkiraan. Akibatnya fatal. Bukan hanya saya yang kecewa. Tapi juga keluarga, teman-teman, sahabat, dan sederet orang kecewa lainnya yang tidak mengungkapkan kekecewaannya pada saya.

Lalu saya berpikir. Mungkin ini bukan soal bagaimana cara saya meraih apa yang saya perjuangkan. Tapi lebih dalam dari hal itu. Mengenai apa yang saya perjuangkan. Mungkin memang selama ini apa yang saya perjuangkan justru belum tepat. Atau bahkan sama sekali tidak tepat. Atau cara saya dalam memilih hal yang saya perjuangkan adalah salah. 

Tidak ada yang mampu menyembuhkan sakit hati kecuali niat dari diri kita sendiri. Pun saya pribadi percaya bahwa kehilangan bukan hanya tentang bagaimana mengobati rasa sakit akibat kehilangan itu. Tapi mengenai keharusan kita dalam mendeteksi orang-orang terdekat yang sangat ingin kita nikmati waktu bersama mereka hingga habis usia. Setelah tahu apa yang kita butuhkan, sudah tentu kita akan menjaga itu sepenuh hati. Sehingga setelahnya, kita tidak akan pernah merasa takut untuk kehilangan.

Catatan ini ditulis di Yogyakarta pada 23 September 2014

Sunday, 24 January 2016

Mengakhiri Pekan dengan Kesenangan Sederhana


Sumber:http://areamagz.com/article/read/2013/12/24/enjoy-jakarta-100-k-asemka-kota-tua




Hikmah dari hari ini: Nikmati waktu istirahatmu dengan secukupnya dan sebaik-baiknya. Karena setelah menikmati sedikit refreshing, otak ini rasanya menjadi lebih mudah diajak bekerjasama.


Weekend ke-tiga di bulan Januari kuhabiskan dengan menyelesaikan cucian yang menumpuk seminggu. Minggu ini hujan turun dengan rajinnya. Sehingga di hari kerja aku tak tega membiarkan Juki, si penjaga kosan harus mengangkat cucianku jika tiba-tiba hujan deras turun di siang hari. Selain itu, aku ingin beristirahat setelah sekian minggu berjibaku dengan deadline di kantor dan acara-acara lain.

Di hari Minggu cucianku sudah kering. Kusetrika dengan serapih dan sewangi mungkin sembari menonton 21 dan 22 Jumps Street. Film yang aku bilang lucu dan belum bosan untuk kutonton berulang kali. Channing Tatum nya itu lho! Hahahaha. Mohon maklum, namanya juga wanita.

Habis dengan cucianku, aku bergegas mandi. Sore ini aku ada janji dengan Mbak Arum, seniorku di kantor yang masih sama-sama single. Kaum single memang memiliki kesamaan waktu yang senggang yang melimpah. Kami berniat untuk sekedar jalan-jalan sore dan mencari kuliner menarik.

Jam 3 sore aku sudah duduk manis semanis sakarin di transjakarta menuju Kota Tua. Kota Tua ada di ujung Jakarta. Disebut kota tua karena di kompleks tersebut banyak museum dan kantor-kantor peninggalan zaman Belanda dulu. Di sore itu, Kota Tua sangat ramai oleh anak-anak dan muda mudi yang asyik berfoto-foto dengan segala peralatan tempurnya. Aku tertarik membeli cilok di abang-abang yang berjualan dengan gerobak.

Akhirnya aku bertemu dengan Mbak Arum. Sambil cekikikan kami berjalan menuju Asemka. Baru kali ini aku tahu apa itu Asemka. Asemka adalah kawasan pedagang yang banyak menjajakan asesoris dan souvenir. Lucu-lucu pokoknya. Stationery yang biasanya kujumpai di toko alat tulis dan harganya mahal, di Asemka aku bisa mendapatkannya dengan harga sangat murah! Di kawasan ini pula bisa ditemukan penjual pernak pernik souvenir pernikahan. Hihihi.

Karena sudah sore, pedagang-pedagang sudah mulai menggulung barang dagangan dan berkemas pulang. Aku sempat membeli tote bag lucu seharga dua puluh ribu dan tempat sampah hello kitty seharga lima belas ribu. Sangat menyenangkan!

Memasuki Kota Tua tidak ada retribusi yang harus kita bayar, alias gratis. Kami melewati penjaja-penjaja asesoris handphone, sepatu-sepatu KW, juga tato-tato temporer. Karena tujuan kami memang mencari makanan, kami langsung menuju kawasan street food dan memesan sate padang masing-masing satu porsi, dan batagor untuk berdua. Rasanya standar, tapi masih bisa dinikmati lah. Harganya pun terjangkau.


Hari itu ditutup dengan berbelanja di Atrium Mall setelah dari Kota Tua, dan aku membeli sekotak martabak telur karena sudah ngidam sejak beberapa minggu lalu. What a nice weekend.

Jakarta, 24 Januari 2016

Tuesday, 10 November 2015

Kejujuran & Kemarahan

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://izquotes.com


Jujur dan marah adalah dua emosi yang awalnya saya pikir tidak saling terikat, atau malah berbanding terbalik. Sejak kecil, para siswa di sekolah diajarkan untuk menjunjung tinggi kejujuran dan mengendalikan rasa marah. Bahkan kalau bisa, jangan marah. Tapi pun, pada akhirnya dua hal itu diinterpretasikan secara berbeda oleh masing-masing individu. Bebas. Tidak ada batasan. Selama kejujuran itu berangkat dari niat baik, rasanya sah-sah saja diungkapkan. Sampai terbitlah kalimat populer “terimalah kejujuran meskipun itu pahit”.

Hingga pada suatu hari saya menyadari sesuatu yang mungkin memang sudah banyak orang sadari. Orang marah itu kemudian sering berkata lebih jujur.

Banyak kejujuran-kejujuran yang tak terungkap, disembunyikan rapat-rapat oleh mereka yang merasa masih ingin menjaga perasaan orang lain. Tapi pun, banyak pula terungkapnya kejujuran justru  dari meluapnya rasa marah seseorang. Entah mana cara yang lebih manis.


Ada seseorang berkata pada saya : “jangan dengerin omongan dia, namanya juga orang lagi marah”.


Tapi benarkah?
Benarkah bahwa memang kita tidak boleh mendengarkan kata-kata orang yang marah?

Sepanjang perjalanan hidup, berkali-kali saya menghadapi orang marah dengan caranya masing-masing. Dengan segala kalimat yang terucapkan, (meskipun kadang di luar batas bayangan untuk bisa didengarkan), dalam setiap kemarahan ada kejujuran. Kejujuran yang terus tersimpan rapi, dan pada akhirnya harus dikeluarkan karena berbagai hal. Bisa jadi memang kotak kejujuran dalam hati orang tersebut sudah terlalu penuh, jadi harus dibagi saat itu juga. Atau bisa jadi, kemarahan itu sudah melebihi rasa ‘keinginan menjaga perasaan’ orang lain. Pada akhirnya, semua sama. Pada setiap kemarahan ada kejujuran.

Meskipun memang benar, kejujuran yang diungkapkan secara baik-baik lebih mudah diterima orang lain daripada kejujuran yang diungkapkan ketika dia diliputi rasa marah.

Tidak semua kejujuran itu harus diungkapkan. Tidak semua yang kita rasakan harus diucapkan.  

Sebagai manusia normal yang beberapa kali menerima luapan rasa marah orang lain, kadang mata hati saya buta. Bahwa ada kejujuran di balik kemarahan orang tersebut. Ada alasan di balik kalimat-kalimat yang tajam. Ada maksud di balik ucapan-ucapan.

Tapi memang butuh kesabaran yang luar biasa untuk mampu memilah kejujuran di balik rasa marah seseorang. Butuh rasa memaafkan yang begitu besar untuk menyisihkan kemarahan dan mempercayai kejujuran.

Maka dari itu, benar kata nenek moyang bahwa buatlah perhitungan ketika sedang marah. Marahlah jika memang harus marah, tapi hati-hati dengan semua kalimat yang terucap meskipun itu ada kejujuran.

Saya teringat pesan dari Almarhum Bapak saya :
Meskipun sedang marah, kita tidak boleh sampai mengucapkan sesuatu yang mendahului takdir.”

Yang dimaksud dengan sesuatu yang mendahului takdir adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan, tapi kita sudah menyatakan. Contoh simpelnya adalah ucapan “aku nggak mau ngomong lagi sama kamu”.
Meskipun itu ‘hanya’ dianggap kemarahan sesaat, ternyata hal itu jauh lebih baik tidak diucapkan. Alasan logisnya adalah: kita tidak pernah tahu, apakah kita bisa untuk selamanya memang tidak berbicara dengan orang tersebut? Bagaimana jika suatu hari kita butuh bantuan dari orang itu? Apakah kita bisa untuk selamanya memang mau untuk tidak berbicara dengan orang tersebut? Apakah kita benar-benar senang ketika ucapan itu benar-benar terjadi selamanya?

Selamat mengungkapkan kejujuran. Selamat menjaga kemarahan.
Selamat belajar menerima kemarahan. Selamat mencari kejujuran.



Jakarta, 10 November 2015

Kehidupan




Mengalah lah sampai tidak ada lagi yang bisa mengalahkanmu.
Merendah lah sampai tidak ada lagi yang bisa merendahkanmu.


Dalam hidup, beberapa kali terjadi hal yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak. But it was really really happen.

Berantem dengan sahabat kecil dan jarang komunikasi hingga umur dua puluhan.
Masuk di sekolah favorit dambaan anak-anak di zaman SD.
Tidak masuk di jurusan kuliah yang diinginkan.
Mendapat dosen bimbingan yang killer.
Merusakkan barang kesayangan kakak/adik padahal baru saja dibeli.
Harus merantau untuk menuntut ilmu/bekerja dan jauh dari keluarga.
Memiliki teman penyuka sesama jenis.
Melihat  kasus perampasan di depan mata kepala sendiri.
Kehilangan anggota keluarga,
dan masih banyak hal ajaib lainnya terjadi tanpa pernah terbayang sebelumnya....


Hidup memang  gak asik  jika terus menerus diberi jalan mulus.
Baru tahu rasanya manis ketika pernah mengecap rasa pahit.
Baru tahu bersyukurnya permah memiliki sesuatu setelah kehilangan.
  


Sebab hidup ini tak pernah benar-benar selamanya.
Selalu ada cahaya setelah kita dengan yakin meninggalkan kegelapan.
Maka jangan pernah sekalipun menempatkan orang lain dalam ruang gelap ketika kamu tahu bahwa kamu tak punya cahaya untuk menerangi.


Allah tak pernah memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya.
Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram. (QS. Ar-Ra’du 28)



Jakarta, 10 November 2015

Tuesday, 20 October 2015

The First Step to Move On : Create Vision!




Bercerita tentang tujuan hidup, aku telah menuliskannya setahun yang lalu di secarik kertas kosong.  Waktu itu adalah penghujung tahun 2014, dan aku sedang berkumpul dengan teman-teman ESQ DIY di rumah seorang senior kami. Beruntung sekali saat itu aku hadir meskipun tidak tepat waktu. Saat diskusi itu, Kak Novel dan Kak Lia (mereka adalah sepasang suami istri yang menjadi teladan kami, hehehe) membimbing kami untuk membuat sebuah resolusi untuk tahun selanjutnya. Untuk apa? Supaya kami bisa melangkahkan kaki dengan lebih terarah, memiliki tujuan, dan tahu jalan mana yang harus dilalui untuk menuju ke sana. Bahasa gaulnya, supaya kami bisa move on dengan cara yang benar!
Kak Novel dan Kak Lia membagikan kami masing-masing selembar HVS yang kosong. Tanpa boleh menyontek, mereka mendiktekan kami banyak pertanyaan, dan kami harus menjawab satu per satu secara jujur. JUJUR.
Dimulai dari identitas utama seperti nama lengkap, tanggal lahir, usia saat ini, saudara, pendidikan terakhir dan estimasi kelulusan, hobi, cita-cita, dan mengapa kamu memilih cita-cita tersebut.
Pada sub topik kedua, terdapat pertanyaan-pertanyaan inti yang mengarahkan kami untuk menuliskan sendiri gambaran besar impian dan kesiapan dalam menjemput impian tersebut. Ada banyak pertanyaan dan harus dijawab dengan jujur sesuai dengan kata hati. Aku sendiri sekarang hanya bisa tersenyum kecil saat membaca tulisanku sendiri setahun yang lalu.
Sub topik ketiga hanya memiliki 1 pertanyaan. Apa resolusi utama kamu di tahun 2015?

Sampai saat ini, kertas itu masih aku simpan di dompet, sesuai dengan saran mereka. Tujuannya supaya aku bisa sering-sering menengok harapanku sendiri di kala aku lengah di tengah jalan dan hilang arah. Hehehe. Pada intinya, di penghujung tahun 2014 itu aku menuliskan resolusi utama di tahun 2015 adalah fokus berjalan menuju jalur berkarir. Setidaknya, di tahun ini aku ingin benar-benar memantapkan apakah aku memang ingin menjalani hidup menjadi wanita karir, atau menjalani peran yang lain.
Tidak cukup sampai di situ. Kami bahkan sudah menuliskan rencana hidup lainnya di tahun berikutnya. Benar, itu memang hanya sebatas mimpi dan cita-cita. Tapi sungguh, ketika aku kembali membaca deklarasi pribadiku ini secara tak terduga, aku seolah menemukan kembali benang merah yang akan aku runut. Aku kembali pada diriku sendiri.


Masa depan memanglah masih menjadi rahasia dari Allah. Tapi tak ada salahnya jika kita selalu menyiapkan reminder-reminder sederhana untuk diri kita sendiri dalam menjalani kehidupan. Dan ketika rencanamu ternyata terwujud satu per satu secara nyata, maka hal pertama yang muncul dari dalam hati adalah : “Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”.

JKT, 21102015

Friday, 18 September 2015

Ingin Pulang




Ingin pulang adalah sebuah keinginan.

Pun makna pulang itu bukan hanya menuju rumah dimana selama ini kita tinggal.

Kadang terbersit perasaan rindu rasanya pulang. Rindu ada yang menunggu dan menyambut dengan sukacita. Meskipun kita pulang dengan tangan kosong.
Rindu pulang seperti memang benar ada yang sudah berdiri di pintu dan tersenyum lebar.
Saat berkali-kali memiliki kesempatan untuk pulang, rasanya seperti biasa saja. Dan ketika kesempatan itu sedang hilang, kini baru menyadari begitu berharganya rasa ditunggu-tunggu dan disambut. Menjadi orang yang spesial.

Apa rasanya nanti ketika diberi kesempatan kembali untuk merasakan pulang...
Samakah dengan pulang ku yang dahulu.
Apakah ketulusan dan senyuman hangat itu juga sama nyamannya.

Dan aku begitu merindukan pulang.
Pulang yang memang dinanti kepulangannya.


Jkt, 19 September  2015
Blogger Babes are Sophisticated Bloggers Seeking Simple Solutions and Support indonesian hijabblogger